Madrasah Aliyah YATPI Godong

Beranda » Uncategorized » Hidup dalam Hidup

Hidup dalam Hidup

Beberapa waktu yang lalu, saya tergelitik oleh pertanyaan seorang anak, “Apa yang dimaksud hidup dalam hidup?”. Sebuah pertanyaan yang terkadang kita anggap sepele, namun mesti dijawab karena itu muncul dari anak yang sedang (senang) ‘berfilsafat’ dan mungkin sedang mencari jatidiri. Ataukah anda termasuk orang yang benar-benar menyepelekannya karena (hanya) pertanyaan seorang anak?
Hidup secara sederhana diartikan sebagai sebuah keadaan yang mempunyai tanda-tanda adanya kesadaran, kehendak, penginderaan, gerak, pernapasan, pertumbuhan, dan kebutuhan akan makanan. Lalu jika demikian, apa yang menyebabkannya mempunyai tanda semacam itu? Di dalam Al Qur’an surat Al Hijr, Allah berfirman pada saat proses penciptaan Adam: “Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud.”


Ruh dengan demikian menjadi penanda atas kehidupan, ia akan hilang seiring dengan kematian seseorang (Imam Al Ghazali). Ruh yang dimaksud disini juga bukan merupakan penggerak atas adanya hasrat dan keinginan serta pertumbuhan, karena ini disebut sebagai nafsu/ annafs. Kata nafs sendiri sebenarnya bukan hanya merujuk pada nafsu saja, namun Tuhan juga menggunakan ‘nafs’ untuk menyebut jiwa dan ruh. Sebagaimana kalimat, “waidzan nufuusu zuwwijat” (ketika ruh-ruh dipertemukan) dan lalu ada kalimat “yaa ayyatuhan nafsul muthmainnah” (wahai jiwa-jiwa yang tenang).
Pada dasarnya Imam Ghazali membagi manusia menjadi tiga dimensi: 1) Dimensi jasad, 2) Dimensi ‘Aradh (tampilan/ aksiden), serta 3) jawhar (esensi/ isi/ hakekat). Jasad merupakan bagian kasar, wadah bagi adanya ruh. Sementara ‘aradh (aksiden) adalah tampilan yang tercipta oleh adanya jasad dan ruh, yang menampakkan bahwa sesuatu itu bergerak, bernafas. Sedangkan jawhar (esensi/ isi) ialah jiwa yang tak pernah mati, jiwa yang nanti kembali kepada Tuhan.
Manusia tidak berbeda dengan makhluk lain, hewan ataupun tumbuhan, dalam dimensi jasad dan penggeraknya. Manusia, tumbuhan, ataupun binatang sama-sama mempunyai jasad (meskipun berbeda bentuk) dan juga ruh sebagai ‘penggerak’ atas jasad. Ada daya yang menggerakkan makhluk ini, yakni daya/ hasrat tumbuhan (nafs nabatiyah) yakni tumbuh, makan, dan berkembang biak, serta daya/ hasrat hewan (nafs hayawan) yang mempengaruhi pada gerak, ataupun marah. Manusia secara kompleks memiliki kedua hasrat ini sekaligus.
Ada hal yang kemudian membedakannya, yakni An-nafs nathiqah (jiwa berfikir). Jiwa manusia dengan daya praktis dan teoritis: Praktis yang hubungannya dengan badan, teoritis yang hubungannya dengan hal-hal abstrak/ ide. Menurut Ibnu Sina, jiwa manusia merupakan satu unit yang tersendiri dan mempunyai wujud terlepas dari badan. Jiwa manusia timbul dan tercipta tiap kali ada badan, yang sesuai dan dapat menerima jiwa, lahir didunia ini. Artinya, jiwa berfikir tak dapat berdiri sendiri tanpa adanya jasad pada permulaannya.
Proses berfikir inilah yang kemudian sangat menentukan dan membedakan antara manusia satu dengan yang lain, yang juga membedakannya dengan tumbuhan ataupun binatang. Manusia bebas berfikir apapun, berfikir pada hal-hal empiris (nampak oleh idera) maupun abstrak (yang tak berwujud). Sungguh pun demikian, proses berfikir manusia terkadang tidak lagi bebas atas dasar pengaruh dari luar. Doktrin, referensi, perspektif, propaganda sangat mempengaruhi pemahaman seseorang. Bahkan hal ini bisa dikatakan sebagai penjajahan yang sesungguhnya, proses berfikir ‘dihentikan’ pada tahap tertentu dan tidak menyentuh kepada hakekat. Padahal hakekatlah yang justru menjadi puncak berfikir seseorang, puncak atas segala ide, setelah semua tanya terhenti.
Namun berfikir tentang hakekat jelas bukanlah hal mudah. Berfikir tentang hal abstrak (tak berwujud) memang teramat sulit daripada berfikir tentang hal yang empiris (nampak nyata). Berfikir tentang surga dan neraka jauh lebih kabur daripada berfikir tentang mewujudkan surga di dunia. Berfikir tentang pahala jelas lebih melangit daripada berfikir tentang pendapatan. Dan hal inilah yang selalu terjadi sepanjang masa, sehingga Tuhan pun mengirim nabi sepanjang masa pula, sampai pada Muhammad tentu saja.
Maka sungguh masuk akal, saat perintah Allah kepada Muhammad pertama kalinya adalah “MEMBACA”. Membaca atas hakekat, tentang Tuhan, tentang esensi manusia, tentang hari setelah kematian, tentang balasan di akhirat. Membaca tentang pemenuhan kebutuhan spirit dan tidak hanya kebutuhan fisik. Tentang kebutuhan rasa/ akal dan tidak hanya tentang kebutuhan perut.
Jika kemudian manusia hanya berfikir tentang tumbuh dan caranya memenangkan pertarungan, maka apa perbedaannya dengan tumbuhan atau hewan? Bukankah jika demikian, maka hakekat hidup sekedar bertahan untuk tidak mati? Lalu bagaimana setelah mati? Cukupkah dengan mengakui bahwa kita beragama lalu dengan sendirinya kita masuk surga? Jika memang kita yakin bahwa kita masuk surga atau justru tidak yakin adanya surga, maukah menjawab tantangan Tuhan, Katakanlah: “Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginilah kematian(mu), jika kamu memang benar. Dan sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri), dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang aniaya.(QS Al Baqarah 94-95).
Maka alangkah beruntungnya, manusia yang mampu memaksimalkan potensi jiwa-nya, untuk menemukan kesadaran dan berfikir tentang hakekat, tentang ide, tentang Tuhan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: