Madrasah Aliyah YATPI Godong

Beranda » Opini » MENAKAR PENAMPAKAN PADA PERISTIWA ISRA’ MI’RAJ

MENAKAR PENAMPAKAN PADA PERISTIWA ISRA’ MI’RAJ

Peristiwa Isra’ Mi’raj menandai sebuah perjalanan spiritual nabi Muhammad saw. Berangkat dari masjidil Haram di Mekah ke masjidil Aqsha di Yerusalem (Palestina) dan lalu naik ke Sidratul Muntaha. Perjalanan ini diterangkan Allah dalam Qur’an surat Al Isra’

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya: Maha suci yang telah memperjalankan hambanya pada malam hari dari masjidil haram ke masjidil aqsha yang kami berkahi sekelilingnya supaya kami perlihatkan sebagian tanda-tanda Kami. Sesungguhnya Dia maha mendengar dan melihat.

Ada banyak makna dari peristiwa ini. Makna yang kita dapatkan dari perjalanan rasul yang telah melompat dari ruang dan waktu. Mengapa demikian? Karena dalam perjalanan itu tidak hanya sekedar perjalanan dari masjidil Haram ke masjidil Aqsha lalu ke Sidratul Muntaha, tetapi telah terlihat pula peristiwa-peristiwa spiritual, masa lampau dan yang akan datang.

Penampakan-penampakan

Dalam Kitab Al Anwaarul Bahiyyah Min Israa’ Wa Mi’raaj Khoiril Bariyyah karya Al Imam Al Muhaddits As Sayyid Muhammad bin Alawy Al Hasany RA, ada beberapa hal yang bisa diceritakan. Selain napak tilas ke beberapa tempat seperti Madinah, Bethlehem, gunung sina, ada beberapa penampakan peristiwa yang dapat dicatat disini:

Pertama, bertemu dengan suatu kaum yang menanam benih pada hari itu dan langsung tumbuh besar dan dipanen hari itu juga, setiap kali dipanen kembali seperti awalnya dan begitu seterusnya, melihat keanehan ini Beliau SAW bertanya: “Wahai Jibril, siapakah mereka itu?”, Jibril menjawab:” mereka adalah para Mujahid fi sabilillah, mati syahid di jalan Allah, kebaikan mereka dilipatgandakan sampai 700 kali.

Kedua, beliau mencium bau wangi semerbak, beliau bertanya: “Wahai Jibril bau wangi apakah ini?”, “Ini adalah wanginya Masyithoh, wanita yang menyisir anak Firaun, dan anak-anaknya”, jawab Jibril AS. Masyitoh adalah tukang sisir anak perempuan Firaun, ketika dia melakukan pekerjaannya tiba-tiba sisirnya terjatuh, spontan dia mengatakan: “Bismillah, celakalah Firaun”, mendengar ini anak Firaun bertanya: “Apakah kamu memiliki Tuhan selain ayahku?”, Masyithoh menjawab: “Ya”. Kemudian dia mengancam akan memberitahukan hal ini kepada Firaun. Setelah dihadapkan kepadanya, dia berkata: “Apakah kamu memiliki Tuhan selain aku?”, Masyithoh menjawab: “Ya, Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah”. Maka Firaun memerintahkan agar disediakan kuali raksasa dari tembaga yang diisi minyak dan air kemudian dipanasi, lalu dia memerintahkan agar mereka semua dilemparkan ke dalamnya, satu persatu mereka syahid.

Ketiga, Muhammad kemudian bertemu dengan sekelompok kaum yang menghantamkan batu besar ke kepala mereka sendiri sampai hancur, setiap kali hancur, kepala yang remuk itu kembali lagi seperti semula dan begitu seterusnya. Jibril menjelaskan bahwa mereka adalah manusia yang merasa berat untuk melaksanakan kewajiban sholat.

Keempat, beliau juga bertemu sekelompok kaum, di hadapan mereka ada daging yang baik yang sudah masak, tapi ternyata mereka lebih memilih untuk menyantap daging yang mentah lagi busuk, ketika Rasulullah menanyakan perihal ini, Jibril menjawab: “Mereka adalah manusia yang sudah mempunyai isteri yang halal untuknya, tapi dia justru berzina (berselingkuh), dan begitupula mereka adalah para wanita yang mempunyai suami yang halal baginya tapi justru dia mengajak laki-laki lain untuk berzina dengannya”.

Kelima, Ketika perjalanan, tiba-tiba seseorang menggoda beliau dari arah kanan: “Wahai Muhammad, lihatlah aku”, tapi Rasulullah tidak memperdulikannya. Kemudian Jibril menjelaskan bahwa itu adalah panggilan Yahudi, seandainya beliau menjawab panggilan itu maka umat beliau akan menjadi Yahudi. Begitu pula beliau mendapat seruan serupa dari sebelah kirinya, yang tidak lain adalah panggilan nashrani, namun Nabi tidak menjawabnya.

Keenam, Kemudian muncul di hadapan beliau seorang wanita dengan segala perhiasan di tangannya dan seluruh tubuhnya, dia berkata: “Wahai Muhammad lihatlah kepadaku”, tapi Rasul tidak menoleh kepadanya, Jibril berkata: “Wahai Nabi itu adalah dunia, seandainya anda menjawab panggilannya maka umatmu akan lebih memilih dunia daripada akhirat”.

Ketujuh, tampak di hadapan Muhammad suatu kaum dengan perut membesar seperti rumah yang penuh ular-ular, dan isi perut mereka ini dapat dilihat dari luar, sehingga mereka sendiri tidak mampu membawa perutnya sendiri. Jibril menjelaskan, mereka adalah manusia yang suka memakan riba.

Kedelapan, beliau juga menemui suatu kaum, daging mereka dipotong-potong lalu dipaksa agar memakannya, lalu dikatakan kepada mereka: “makanlah daging ini sebagaimana kamu memakan daging saudaramu di dunia, yakni menggunjing atau bergosip”.
Demikianlah perjalanan ditempuh oleh beliau SAW dengan ditemani Jibril dan Mikail, begitu banyak hikmah yang didapat dari gambaran-gambaran yang ditunjukkan Tuhan sebagai bukti bahwa ada balasan bagi apapun yang dilakukan manusia selama hidup.

Selain mendapati peristiwa yang seperti diatas, beliau juga bertemu dengan para nabi dan rasul di Baitil Aqsa, bahkan berjamaah bersama dengan Nabi Muhammad sebagai Imam. Setelah berjamaah, Nabi disodori dua minuman, susu dan khamr, lalu memilih susu, Jibril berkata: “Sungguh kamu telah memilih kefitrahan yaitu Islam, jika kamu memilih khamar niscaya umatmu akan menyimpang dan sedikit yang mengikuti syariatmu”.

Kemudian setelah beliau menyempurnakan segalanya, maka tiba saatnya beliau melakukan mi’raj yakni naik bersama Jibril menembus langit sampai akhirnya berjumpa dengan Khaliq-nya.

Bertemu dengan Allah

Setelah berada di tempat yang ditentukan oleh Allah, tempat yang tidak seorang makhlukpun diizinkan berdiri disana, beliau melihatNya dengan mata beliau yang mulya. Saat itu langsung beliau bersujud di hadapan Allah SWT. Allah berfirman: “Wahai Muhammad, mintalah sesuka hatimu”.

Nabi mengingat bahwa Allah telah mengabulkan permintaan para nabi, menjadikan Ibrahim sebagai Khalil (kawan dekat), mengajak bicara Musa, memberikan Dawud kerajaan dan kekuasaan yang besar, memberikan Sulaiman kerajaan agung lalu ditundukkan kepadanya jin, manusia dan syaitan serta angin, mengajarkan Isa at Taurat dan Injil dan menjadikan dia dapat mengobati orang yang buta dan belang serta menghidupkan orang mati. Namun ternyata Muhammad tak meminta apapun, beliau berkata, “Tuhanku, Engkaulah yang kutuju dan ridlomu yang kuharapkan”. Maka dengan ini, Allah memberikan beliau karunia syafaat yang bisa diberikan sampai pada hari kiamat. Satu-satunya karunia yang tidak dimiliki oleh nabi dan rasul lain. Shollu ‘alan nabiy.

Pertemuan Rasul dengan Allah juga telah membuahkan kewajiban sholat 5 waktu. Meski melalui tawar menawar yang berkali-kali. Allah berfirman: “Wahai Muhammad, itu adalah kewajiban 5 sholat sehari semalam, setiap satu sholat seperti dilipatgandakan menjadi 10, maka jadilah 50 sholat”.

Penutup

Ada banyak hikmah yang bisa diambil dari peristiwa perjalanan spiritual Muhammad dalam Isra’ Mi’roj. Pertama, membuktikan kekuasaan Tuhan dan kemuliaan Muhammad sehingga mampu melakukan perjalanan spiritual antar waktu (menundukkan waktu) dan bahkan bisa bertemu dengan orang-orang dan nabi yang telah meninggal jauh sebelumnya.

Kedua, Adanya gambaran tentang balasan terhadap apa yang pernah dilakukan oleh manusia. Tergambar dengan jelas, manusia yang kukuh dengan keimanannya seperti Masyithoh dan Syuhada yang menerima balasan indah dari Tuhan. Dan tergambar pula, orang-orang yang berperilaku buruk seperti berzina, riba (bisa juga korupsi), menjelekkan orang lain, yang dihukum Tuhan atas hal itu.

Ketiga, terlihat kemuliaan Muhammad yang lebih mementingkan dan memprihatinkan umatnya dengan tidak mengambil anugerah yang ditawarkan Tuhan, yang semestinya bisa dinikmati rasul saat itu juga. Bahkan pun kalau ia tak mau kembali ke bumi dan menetap di sisi Tuhan.

Keempat, ada pelajaran dari Muhammad bagaimana ia memilih bersikap menahan diri dari panggilan yang menggoda, baik dari kanan maupun kiri, dan juga dari perempuan yang penuh hiasan, dan bukannya menghancurkannya seperti saat memukul jin Iffrit yang mengikuti Muhammad.

Kelima, “Ilaahi anta makshudi wa ridloka mathlubi” (Tuhanku engkau yang kutuju dan ridlomu yang kuharap) sebagaimana yang diutarakan beiau kepada Allah adalah hakikat dari ajarannya, dengan amalannya berupa sholat. Dan 5 waktu menjadi kewajiban bagi umat yang akan mendapatkan syafaat Nabi.

By M.A.J


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: