Madrasah Aliyah YATPI Godong

Beranda » Hikmah » Maafkan Kami Ya Rasul

Maafkan Kami Ya Rasul

Muhammad, sama juga dengan nabi yg lain, lahir di tengah2 permasalahn sosial, hukum, politik, ekonomi yg kompleks. Terlahir dari kelompok “feodal” namun dibesarkan dalam kesederhanaan & kesahajaan desa bersama keluarga miskin (Halimatus Sa’diyah). Saat kembali ke Hejaz (Makkah) ia merasakan betapa kesenjangan ekonomi & sosial begitu nyata, sehingga (kadang) budak menjadi sebuah pilihan agar dapat makan daripada merdeka tapi kelaparan. Pun juga dalam hal perkawinan, sehingga populer pada saat itu perkawinan mut’ah, perkawinan sedarah, perkawinan semalam, yang juga ‘demi makan’.
Kepedulian sosial dan kebersamaan teramat jauh dr nyata, terlihat betapa masing2 kabilah/ suku sangat eksklusif. Ada yg begitu kaya hingga sangat borjuis dan ada yg begitu miskin hingga dikucilkan. Namun bisa diduga, kelompok kaya lebih sedikit dari kelompok yg miskin. Jadi nampaklah bahwa orang2 miskin sangat mayoritas. Dan yang terjadi kemudian, “kemiskinan membuat seseorang kehilangan kesadarannya” bahkan melampaui rasionalitas. Dus, batu2 mistik, kayu2, jimat, dukun, mitos menjadi sangat favorit. Bisa diduga kemudian bahwa mereka menjadi ‘sangat mudah dikendalikan’ oleh penguasa. Dengan kata lain, penjajahan, ketiadaan berfikir, keterikatan, pembodohan telah terjadi. Inilah yg kemudian disebut sebagai ‘jahiliyah’, bukan berarti mereka bodoh dalam hal ilmu -karena pada saat tersebut perkembangan seni, puisi, sastra berkembang cukup bagus-  tetapi betapa perilaku tanpa didasari moral, hukum dipermainkan oleh kelompok tertentu, fikiran didoktrin sedemikian rupa.
Inilah yang kemudian menjadi misi Muhammad yang ‘belum benar2 terwujud’, menyempurnakan akhlak, yang kemudian telah diserah-tanggungjawabkan kepada kita semua. ‘Membaca’ kehidupan menjadi modal utama. Membaca yang tidak hanya dilihat dari kulit luar, namun bahwa yang nyata bukan yang nampak. Penjajahan dalam bentuk pengekangan berfikir, menghamba pada sesuatu benda atau seseorang, menggantungkan diri pada sesuatu benda atau seseorang, terlalu mencintai sesuatu benda atau seseorang, adalah hal yang harus ditolak karena itu adalah bentuk kekafiran. Pembedaan antara seseorang dengan yang lain, merasa tinggi dari yang lain, merasa paling hebat dari yang lain, merasa paling benar dari yang lain adalah embrio dari ketidakpercayaan pada Tuhan.
Muhammad telah mencontohkan untuk meniadakan perbedaan itu dengan mensaudarakan kaum Anshor & Muhajirin, merintis kebersamaan dengan duduk bersama dalam merumuskan Madinah, mengutamakan santun dengan mendahulukan perjanjian daripada perang.
Muhammad pula yang telah memperingatkan kepada kita bahwa tindakan yang tidak berdasar moral/ akhlak adalah awal dari sebuah kehancuran. Tidakkah kita membuat air mata beliau mengalir saat kita mengabaikan moralitas, menyepelakan hak manusia lain, bertindak tanpa mengindahkan hukum, menumpuk kekayaan dan membiarkan yang lain kekurangan, membiarkan kerusakan dengan dalih bukan urusan kita, tertawa saat orang lain susah, mengalirkan darah makhluk Tuhan dengan dalih membela Tuhan ? Maafkan kami ya Rasul…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: