Madrasah Aliyah YATPI Godong

Beranda » Cerita Sufi » Keledai yang Bisa Membaca

Keledai yang Bisa Membaca

Penyerbuan bangsa Mongol ke pusat kekuasaan Bani Abbasiyah di Baghdad menyisakan perih mendalam bagi umat Islam. Meskipun demikian, ada cerita yang menarik di balik itu semua. Dimana Timur Lenk, pemimpin bangsa Mongol sangat penasaran dengan kecerdasan seorang tokoh sufi, Nashrudin.

Suatu hari Nasrudin dipanggil oleh Timur Lenk. Dengan sikap sedikit meremehkan, Timur Lenk berkata, “Nasrudin, kudengan kamu adalah seorang guru yang luar biasa. Coba buktikan kepadaku, ajarilah keledaiku ini membaca. Jika tidak sanggup kamu bukanlah seorang yang hebat, tapi jika kau sanggup lalu tidak terbukti maka akan kuhukum kamu!”

Nasrudin tanpa berfikir panjang langsung mengiyakan, apalagi demi menjawab tantangan Timur Lenk.

Beberapa minggu kemudian, Nasrudin telah membawa keledai tersebut ke hadapan Timur Lenk. Timur Lenk sangat penasaran dengan apa yang telah dilakukan Nasrudin terhadap keledainya, lalu ia memberikan sebuah buku dan menyuruh Nasrudin untuk membuat keledai itu membacanya.

Buku itu kemudian diletakkan di depan keledai. Keledai itu kemudian membalikkan lembar demi lembar buku dengan lidahnya hingga selesai halaman terakhir.  Setelah selesai, keledai itu memandang Nasrudin, dan Nasrudin manggut-manggut.

Timur Lenk sangat penasaran dengan perilaku keledai yang membuka lembar demi lembar buku itu. Lalu berkata ia kepada Nasrudin, “Bagaimana? apa yang dia baca?”

“Ia hanya membuka lembaran demi lembaran halaman paduka,” jawab Nasrudin ringan.

“Berarti dia tidak membaca?” tukas Timur Lenk.

“Bagaimana seekor keledai mampu membaca buku ini paduka, bahkan manusia saja kadang ketika diberi sebuah buku hanya membuka-buka saja tanpa mengerti apa maksud buku itu. Tapi masih untung, keledai ini mau membalik lembar demi lembar sampai selesai, manusia malah ketika diberi buku enggan menyentuh,” sindir Nasrudin kepada Timur Lenk.

Timur Lenk manggut-manggut, dalam hati ia membenarkan dan kagum kepada kecerdasan Nasrudin sekaligus menyadarinya telah disindir oleh Nasrudin. Padahal Timur Lenk tidak mengetahui, bahwa Nasrudin telah menyelipkan biji gandum di setiap lembar buku itu sehingga membuat keladai itu menjilat lembaran demi lembaran buku hingga halaman terakhir.

Diceritakan kembali oleh Mahbub A J


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: