Madrasah Aliyah YATPI Godong

Beranda » Hikmah » Bangku untuk Ayah

Bangku untuk Ayah

Tersebutlah seorang tua tinggal bersama anak dan menantunya yang mempunyai seorang anak laki-laki. Orang tua ini tinggal bersama anaknya di rumah yang sudah diserahkan kepada anaknya tersebut.

Usia yang sangat lanjut membuat ia pikun, lemah dan sudah sering dihampiri sakit. Hingga saat berjalan pun demikian susah dan terhuyung-huyung, bahkan saat memegang sesuatu selalu saja bergetar dan kemudian jatuh. Pun demikian saat makan, sendok yag ia pegang selalu bergetar sehingga nasi atau sup yang ia ambil mesti berantakan di meja. Demikian juga saat memegang gelas, bisa dipastikan airnya pasti tumpah ke meja makan.

Kebiasaan yang dipegang oleh keluarga ini, mereka membiasakan makan bersama-sama. Sehingga pada saat kakek tua ini senantiasa menumpahkan makanannya, menantunya selalu saja bawel, anaknya pun marah-marah, lalu bubarlah acara makan bersama tersebut. Si Kakek tersebut hanya bisa menangis dan tidak bisa berbuat apa-apa, karena menyadari bahwa ia sudah renta dan hanya ikut dengan anaknya.

Akhirnya, sang anak punya inisiatif agar makan bersama tidak menjadi kacau dengan membuat meja makan khusus untuk ayahnya dan diletakkan di pojok ruang dapur. Ide ini cukup cemerlang, makan bersama antara suami istri dan anak laki-lakinya berjalan lancar tanpa ada gangguan air tumpah dan piring jatuh dari kakek tua tersebut.

Sementara keluarga makan bersama, Sang Kakek menangis di meja makan di pojok dapur. Ia juga diberi piring plastik & gelas plastik sehingga saat piring atau gelas jatuh, tidak pecah. Ia merasa dikucilkan anaknya.

Suatu hari, bocah laki-laki anak pasangan keluarga ini sedang sibuk melakukan sesuatu di belakang rumah. Ayahnya yang melihat kesibukan anaknya datang menghampiri dan bertanya, “Sedang apa kamu anakku?”

Sang bocah kemudian menjawab, “Sedang membuat meja ayah,” katanya sembari meneruskan pekerjaannya.

“Membuat meja? untuk apa? tugas dari sekolahan?” tanya ayahnya kemudian.

“Bukan ayah. Meja yang kubuat ini untuk ayah besok saat sudah tua, seperti kakek kan sudah ayah buatkan meja sendiri,” Kata bocah itu.

Sang ayah kemudian menangis, merasa bersalah terhadap apa yang dilakukannya terhadap ayahnya. Ia membayangkan dirinya saat tua dan kemudian duduk sendirian di pojok ruang makan. Sang ayah menyesal, ia segera meminta maaf pada ayahnya. Kemudian meja makan ayahnya itu dibuang ke gudang.

Semenjak itu sang kakek disertakan dalam makan bersama. Biarlah sendok jatuh, biarlah piring berantakan, biarlah gelas tumpah, Sang Ayah dan istrinya bisa membersihkan bersama-sama. Si Bocah melihat itu semua dan merekam di dalam otaknya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: