Madrasah Aliyah YATPI Godong

Beranda » Cerita Sufi » Kisah Raja Cacat

Kisah Raja Cacat

Syahdan, ada seorang Raja yang luar biasa. Ia telah menghabiskan hampir separuh umurnya untuk menghamba pada negara, berperang memperluas kerajaan. Bermacam pertempuran dan beribu-ribu orang telah ia hadapi dan beribu-ribu orang pula tewas di tangannya. Sabetan pedang, pukulan godam, tusukan tombak ataupun lecutan cambuk sudah pernah ia rasakan. Hampir seluruh tubuh beliau nampak bekas senjata-senjata itu. Namun luka-luka beliau justru menambah kegagahannya. Bahkan ia tak memperdulikan satu luka yang kadang membuat rakyatnya takut, mata kiri buta dengan sayatan pedang yang nampak menggores mulai dari mata hingga pipi kiri.

Hingga tibalah saat dia menikmati jerih payahnya, menerima upeti dari kerajaan-kerajaan taklukan. Beliau merasa telah cukup puas dengan ekspansi yang dilakukan. Maka kemudian beliau bermaksud mengadakan sebuah pesta besar-besaran dengan mengundang seluruh daerah taklukan dan kerajaan-kerajaan sahabat.

Segala persiapan telah dilakukan jauh hari, rakyat diwajibkan bergotongroyong mempersiapkan kota dengan segala tata ruang kota yang indah. Kerajaan dibangun dengan taman-taman yang megah dan indah. Sang raja melakukan pengecekan sendiri terhadap persiapan-persiapan yang telah dibuat. Ia berjalan menyusuri kota dan taman-taman serta ruang-ruang di kerajaan, nampak manggut-manggut puas. Namun saat memeriksa ruang balairung tempat pesta akan diadakan, beliau tiba-tiba terdiam dan termangu. Cukup lama. Hingga para ajudannya segera bertanya,

“Kenapa Baginda? Apakah ada yang kurang dari persiapan pesta nanti paduka?”

Sang Raja masih terdiam. Lalu,

“Nampaknya ada satu yang perlu ditambahkan di ruangan ini, yaitu lukisanku. Dibuat besar dan ditempatkan di ruang ini. Harus lukisan yang sempurna, sehingga para tamu akan melihat kegagahanku,” ujar baginda.

Singkatnya, ajudan segera mengundang seluruh pelukis di negeri itu. Namun saat melihat baginda, mereka kemudian mengundurkan diri karena takut melakukan kesalahan karena melihat luka di sebelah kiri Baginda. Hanya tinggal tiga orang yang masih bertahan.

Pelukis pertama kemudian mulai melukis wajah baginda, dengan pakaian kebesarannya.

Setelah selesai, lukisan tersebut kemudian dihaturkan kepada sang Raja. Raja nampak merah mukanya, marah melihat lukisan tersebut menggambarkan dengan jelas luka di wajah sebelah kiri beliau. Maka dipenggallah kepala sang pelukis.

Kemudian giliran pelukis kedua. Ia nampak takut dengan yang terjadi pada pelukis pertama. Ia kemudian mulai melukis sang Raja, juga dengan pakaian kebesarannya. Setelah selesai, sang raja kemudian melihat lukisan tersebut. Beliau sejenak terdiam melihat lukisan yang menggambarkan Raja yang gagah tanpa cacat di wajahnya.

“Penggal pelukis ini, ia telah berbohong, ini bukanlah diriku!” Titah sang raja kemudian.

Tibalah pelukis ketiga yang kemudian dengan tenang melukis Raja. Setelah selesai, lukisan itu kemudian dihaturkan pada sang Raja. Cukup lama Raja memandang lukisannya, lalu beliau tersenyum sambil berkata,

“Sempurna! Aku hadiahi kamu dengan emas dan perhiasan, dan kuangkat kamu menjadi pelukis istana. Luar biasa! segera pasang lukisan ini di balairung!”

Saat pesta akhirnya tiba, semua tamu undangan nampak menikmati pesta yang digelar oleh sang Raja. Mereka juga mengagumi lukisan yang nampak megang di ruang utama Balairung. Lukisan raja yang nampak dari samping sebelah kanan, lengkap dengan pakaian kebesaran beliau.

——————————————————–

Sepenggal kisah tersebut hanyalah sebuah cerita dengan setumpuk nilai-nilai yang bermakna bagi kita. Terkadang orang melihat sesuatu dari sudut yang umum dipandang orang. Bisa baik, bisa buruk. Saat orang-orang dengan pandangan umum melihat sesutu itu baik, mungkin ada hal-hal buruk yang melekat pada sesuatu itu. Sebaliknya, saat orang-orang secara umum melihat sesuatu itu buruk, mungkin ada hal-hal baik yang bisa kita ambil.

Dari sini terlihat betapa pentingnya sebuah perspektif. Perspektif adalah cara pandang orang melihat sesuatu secara lebih luas. Seberapa luas seseorang melihat sesutu tergantung dari seberapa dalam pengetahuan seseorang. Dengan demikian pengetahuan menjadi sangat penting. Seseorang dengan pengetahuan yang cukup handal menjadikan seseorang tidak terburu-buru menilai sesuatu, tidak mudah berkomentar tanpa dipikir terlebih dahulu dan tak gegabah dalam mengambil keputusan.

* m.a.j*


1 Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: