Madrasah Aliyah YATPI Godong

Beranda » Hikmah » Akibat Perbuatan Buruk

Akibat Perbuatan Buruk

Cerita Sufi, diceritakan terdapat seorang anak (Ahmad) yang nakalnya luar biasa. Sudah tak terhitung lagi berapa orang yang menuntut ganti rugi atas kelakuan si Ahmad. Karena sudah terlalu banyak yang diperbuat anaknya, ayah Ahmad lalu memanggil anaknya.

“Ahmad, kenapa kau berperilaku demikian?”

Ahmad diam saja sambil cengar cengir.

“Udah begini saja, silahkan kamu nakal terserah, berbuat apapun terserah, kejahatan apapun juga silahkan, tapi aku meminta satu hal padamu,” ucap ayah lembut.

“Apa itu ayah?” tanya Ahmad.

“Setiap engkau melakukan perbuatan buruk atau jahat, tancapkanlah sebuah paku di tiang rumah. Itu saja yang aku minta, dan au tidak akan melarangmu berbuat apapun,” Kata ayah.

“Baiklah ayah akan kulakukan, sepertinya pekerjaan itu tidaklah sulit,” tukas Ahmad.

Akhirnya setelah hari itu, Ahmad masih saja berperilaku buruk dan jahat, bahkan menjadi-jadi. Entah sudah berapa harta yang dikeluarkan ayahnya untuk mengganti kerugian atas perbuatan yang ditimbulkan anaknya. Namun Ahmad tidak melupakan permintaan ayahnya untuk menancapkan paku saat ia melakukan kejahatan.

Hari demi hari tidak pernah berkurang kejahatan Ahmad. Hingga suatu saat ia kesulitan menancapkan paku lagi karena tiang tersebut sudah penuh dg paku-paku yang ia tancapkan seiring kejahatan yng diperbuat. Ia terdiam dan hanya memandang tiang yang penuh dengan paku-paku itu. Ia melihat betapa banyak perbuatan buruk yang dilakukan. Akhirnya ia menemui ayahnya.

“Ayah, sepetinya aku terlalu banyak berbuat buruk hingga tiang rumah kita sudah tidak mampu menampung paku-pakuku.” Kata Ahmad begitu bertemu dengan ayahnya.

“Lalu?” tanya ayahnya menyelidik.

“Aku ingin memperbaiki perilakuku ayah,” jawab Ahmad.

“Kalau engkau mau memperbaiki perilakumu, mintalah maaf pada orang yang telah kau sakiti dan berbuat baiklah. Dan jangan lupa, setiap engkau meminta maaf atau berbuat baik, cabutlah paku itu satu, sehingga dosa-dosa yang telah engkau lakukan benar-benar terhapus,” jawab ayahnya sambil tersenyum.

Ahmad sejak saat itu kemudian berubah menjadi baik. Ia meminta maaf kepada orang-orang yag pernah disakiti. Ia juga berbuat baik kepada siapa saja. Dan setiap ia minta maaf atau berbuat baik, ia mencabut satu paku yang ada di tiang rumah.

Sampai akhirnya, perbuatan baik yang dilakukan Ahmad sudah impas dengan perbuatan buruk yang dilakukan. Dan paku terakhirpun dicabut. Namun ia masih diam saja, terpaku memandangi tiang rumahnya. Ayahnya melihatnya, lalu bertanya,

“Kanapa kau Ahmad? Bukankah paku terakhir sudah kau cabut dan kau sudah tidak punya dosa lagi?”

“Benar ayah, tapi coba lihatlah ayah. Meskipun semua paku sudah kucabut, tapi ternyata ia meninggalkan bekas dan menjadikan tiang ini begitu buruk, penuh lubang dan benar-benar jelek. Ternyata maaf dan perbuatan baik tak dapat benar-benar menghapus apa yang kita perbuat, karena ia masih tetap meninggalkan bekas,” jawab Ahmad sambil menangis.

Diceritakan kembali oleh Sang Guru


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: