Madrasah Aliyah YATPI Godong

Beranda » Opini » MENJADI MANUSIA ULUL ALBAB

MENJADI MANUSIA ULUL ALBAB

Oleh; Mahbub AJ

Sebelum memulai pembicaraan, kami akan mengingatkan bahwa hendak mengajak anda merenungi beberapa pertanyaan yang mungkin sempat menyentuh hati kita. Pertanyaan-pertanyaan seperti dibawah inilah yang mesti kita renungkan;

  1. Siapakah saya ini?
  2. Siapa pula yang menciptakan aku? Tuhan?
  3. Siapa Tuhan itu?
  4. Mengapa Tuhan menciptakan Aku?
  5. Dan, Bagaimana aku mesti menjalani hidup?

Siapakah AKU ini?

Kita sering disebut sebagai manusia, makhluk yang (katanya) tertinggi derajatnya. Apa yang membuat kita tinggi derajatnya? AKAL. Yang akhirnya dengan akal itu kita dapat mengenal orang lain, makhluk lain, terbang ke langit, menyelam di lautan, berpindah tempat dengan waktu setempat dan lain sebagainya.

Disamping manusia ternyata kita juga memiliki kawan lain. Makhluk-makhluk yang tersebar di bumi, berbagai jenis hewan dan binatang, malaikat (yang belum pernah kita lihat bentuknya), serta jin-jin yang tersembunyi dibalik cahaya. Binatang-binatang serta tumbuhan yang banyak tersebar di sekitar kita telah kita manfaatkan (tentu dengan akal) demi memenuhi berbagai keperluan kita. Walaupun kita berkelakuan yang demikian apakah kita memang sudah berbeda dengan makhluk-makhluk itu? Makhluk-makhluk itu, ambil contoh kambing, kambing setiap pagi setelah matahari terbit yang ia cari adalah makan, digiring ke padang rumput pun sambil makan. Kalaupun makanan yang ia incar itu sulit didapat, iapun berusaha mencari jalan bagaimana ia mendapatkannya. Setelah kenyang, paling-paling ndeketin kabing betina dan melakukan proses reproduksi. Atau apabila ia diganggu maka ia mengandalkan tanduknya untuk pengganggunya. Sore hari, ia digiring ke kandang sambil menggasak apa pun sebelum ia tidur.

Sekarang kita mencoba melihat diri kita, pagi hari setelah bangun tidur, langsung cari makan, lalu pergi ke sekolah, entah apakah benar-benar sekolah atau tidak? Ataukah sekolah yang kita lakukan itu untuk apa? Mencari ilmu atau bekal ketika besok kita dewasa dan harus mencari makan sendiri? Selesai sekolah yang kita tuju pertama kali meja makan, setelah itu tidur siang, sore hari bermain, dan akhirnya malam hari kita tertidur. Kalau demikian halnya, apakah beda kita dengan kambing atau yang lain? Kambing hidup bertujuan untuk makan dan pikirannya pun adalah makanan, sedangkan kita, apa yang kita tuju? Atau apakah kita merasakan bangga ketika kita paling tidak menyelingi waktu kita ‘mencari makan’ itu dengan sholat? Itukah yang membedakan kita dengan kambing? Padahal kambing pun beribadah sesuai dengan caranya. Mengembik di pagi hari, merelakan dirinya disembelih untu korban adalah bentuk-bentuk ibadah kambing. Sehingga jangan dibanggakan ibadah itu adalah yang membedakan kita dengan kambing atau makhluk yang lain.

Akhirnya kita mencoba memahami diri bahwa ternyata kita pun mempunyai potensi-potensi makhluk lain, binatang dan tumbuhan. Ibnu Sina, tokoh kedokteran Islam, mengatakan bahwa potensi tumbuhan yang ada dalam diri manusia mempengaruhinya dalam pencarian makan dan potensi tumbuh dan berkembang. Sedangkan jiwa binatang yang ada dalam diri manusia mempengaruhinya dalam tindakan yang ingin menguasai yang lain, berperang, membunuh, ngesek, berbuat kejam dan pinginnya memenuhi keinginanya saja. Dan akhirnya kita menemukan potensi yang tidak dimiliki makhluk-makhluk lain, binatang ataupun tumbuhan, yaitu jiwa manusia itu sendiri. Jiwa manusia dikatakan Ibnu Sina mempengaruhinya dalam proses berpikir dan mengungkap segala misteri alam (ciptaan Tuhan) dan jiwa ini terpusat dalam akal.

Nah, dengan akal yang kita gunakan untuk mengungkap alam inilah maka kita akan menjadi manusia yang ulul albab. Sebagaimana berbagai ayat yang ada dalam al Qur’an, salah satunya ada dalam Al Baqoroh ayat 269,

ﺮﻛﺬﻳﺎﻣﻮ,ﺍﺮﻴﺜﻛ ﺍﺭﻴﺨ ﻰﺘﻮﺃﺩﻗﻓ ﺔﻤﻜﺤﻟ ﺍ ﺕﺆﻴ ﻦﻤﻮ ﺀﺎﺸﻴ ﻦﻤ ﺔﻤﻜﺤﻟ ﺍ ﻰﺘﺆﻴ

ﺐﺑﻟﺍﺍﻮﻟﻭ ﺍ ﻻﺇ

Artinya: Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang mendalam tentang Al Qur’an dan Hadits) kepada siapa saja yang dikehendaki. Dan barang siapa dianugerahi Al Hikmah itu, maka ia benar-benar dianugerahi karunia yang banyak. Dan ulul albablah yang dapat mengambil pelajaran.

Dari ayat diatas, telah jelas bagi kita, bahwa apa yang dinamakan ulul albab adalah orang yang dianugerahi hikmah. Dan hikmah itu hanya dapat diambil dari pelajaran-pelajaran yang kita dapatkan dari misteri-misteri alam, sebagaimana firman Allah dalam QS. Ali Imran ayat 190 yang artinya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi Ulul Albab”.

Disamping memaksimalkan fungsi akal, manusia yang ulul albab juga mempergunakan seluruh kemampuan yang ia miliki itu untuk tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran dan berani melawan penguasa-penguasa yang zalim, sebagimana yang disebut Allah dalam surat Az Zumar ayat 17-18 yang artinya: “Dan orang-orang yang menjauhi taghut/ penguasa zalim (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira, sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamb-hamba ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah Ulul Albab”.

Kesadaran dan kekritisan sebagai salah satu orang yang mempunyai akal adalah ciri dari kaum intelektual. Disamping itu ia memiliki pendirian teguh dengan apa yang ia anggap benar. Dengan kata lain orang yang disebut sebagai ulul albab adalh orang yang punya prinsip. Sebagai orang yang kritis dan mempunyai prinsip maka tentu saja tidak mudah percaya dengan hasutan atau apa yang dikatakan orang lain, baik itu menyangkut urusan pengetahuan ataupun agama sekalipun.

Sebagaimana dalam QS. Ali Imron ayat 190 yang artinya: “Dialah yang menurunkan al kitab kepadamu. Diantara isinya ada ayat-ayat yang muhkamat itulah pokok-pokok isi Al Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mustasyabihat, adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari tugas akhi’wilrnya, padahal tidak ada orang yang tahu tugas akhir’wilnya kecuali Allah. Dan orang-orang mendalam ilmunya mengatakan:’kamu beriman kepada ayat-yat mutasyabihat, semua itu dari sisi Tuhan kami.’ Dan tidak dapat mengambil pelajaran (darinya) melainkan ulul albab”.

Dalam al Qur’an tidak semua ayat letter leuq, dan tidak dapat diartikan macam-macam. Mungkin perintah sholat, puasa, zakat adalah perintah-perintah yang mesti kita fahami secara apa adanya. Namun disisi lain banyak ayat-yat yang memerlukan pemikiran mendalam tentang apa arti yang ada di balik makna ayat tersebut. Contohnya, dalil yang digunakan senjata untuk mengganjal Megawati menjadi Presiden, arrijalu qowwamuuna ‘alan nisa’. Dalil ini secara tekstual berarti laki-laki ada diatas perempuan. Namun sebenarnya masih dapat didialogkan lebih jauh karena seandainya dalil ini dikaji mentah-mentah akan menentang misi Muhammad sebagai rosul yang membawa nilai-nilai kesetaraan, penghargaan dan kemanusiaan. Arti tekstual masih dapat dibantah, tentang bagaimana sejarah kenapa dalil tersebut keluar dan apakah arti annisa’ dan arrijaalu itu benar-benar perempuan dan laki-laki yang dipandang dari jenis kelaminnya?. Atau ayat yang berbunyi “Inna addiina ‘inda Allahi alIslam”. Apakah denga segelintir ayat ini kita mesti berkeras kepala untuk menjadikan Indonesia negara Islam dan memaksa orang-orang yang non Islam mengikuti ajaran kita? Padahal nabi sendiri tidak pernah memaksakan tentang negara Islam, bahkan munculnya nama Islam sendiri ada ketika nabi menjelang wafat. Kalau Islam yang dimaksud tersebut adalah Islam yang jelas identitasnya, maka Muhammad bukanlah orang Islam (karena di jaman nabi belum ada KTP, apalagi mengecap dengan nama Islam). Lalu bagaimana pula dengan ayat lakum diinukum waliyadin? Nah, kalau demikian apa arti Islam yang ada dalam ayat diatas?

Islam yang dimaksud diatas adalah nilai-nilai yang dibawa oleh Muhammad yang termaktub dalm Al Qur’an dan Al Hadits. Nilai-nilai yang meliputi berbagai hal yakni: Ketuhanan, Pentauhidan, Hablumminannas, serta tanggungjawab lingkungan.

Pertama, Ketuhanan. Tuhan dipahami sebagai sang pencipta, ia adalah awal dari segala-galanya. Ia lah yang menciptakan malaikat, syetan, manusia, jin, genderuwo, orang batak, orang Aceh, orang Islam, orang Kristen, orang Hindu, orang purbakala dan lain sebagainya. Dengan keyakinan yang demikian maka dalam mentuhidkan Tuhan kita tidak akan melenceng. Kedua, Tauhid. Dengan pengetahuan bahwa Tuhan syetan, malaikat binatang, orang hindu, batak buhda, hindu Islam dan lain sebagainya diciptakan oleh satu jenis zat yakni Tuhan (yang dalam bahasa orang Islam disebut Allah, bahasa kristen Alah, bahasa Hindu Sang Hyang Widi, bahasa Budha adalah Sang Budha dan lain sebagainya). Dengan pengertian tersebut maka kita tidak dapat menyalahkan dan menganggap Tuhan orang kristen, orang budha, orang hindu dan lain sebagainya adalah beda dengan Tuhan kita. Jika kita menganggap bahwa Alah, sang hyang widi, sang buda dan lain sebagainya adalah zat yang berbeda-beda maka sama saja kita beranggapan bahwa Tuhan adalah banyak, dengan demikian justru kitalah yang disebut sebagai musyrik. Artinya, berbagai cara peribadatan haruslah kita hormati. Kita mempunyai keyakinan sendiri dengan apa yang menjadi tata cara beribadah kita, seperti Shalat, puasa, haji dan lain sebagainya.

Ketiga, Hubungan manusia dengan manusia. Manusia yang diciptakan dengan begitu banyaknya dan masing-masing memiliki kepercayaan yang berbeda haruslah dianggap sama kedudukannya. Sama-sama manusia yang memiliki akal dan bertugas sebagai khalifah di bumi. Perbedaan cara ibadah kepada Tuhan tidaklah pantas diperdebatkan dan menjadi api pemicu pertengkaran dan peperangan dengan kelompok lain. Keempat. Hubungan manusia dengan lingkungan. Hala ini dapat diartikan sebagai bentuk tanggung jawab kita sebagai makhluk Tuhan yang mengemban amanat sebagai khlaifah. Karenanya kita wajib berbuat kebaikan dan menjaga keseimbangan hayati, bukan malah merusaknya.

Dengan membawa prinsip-prinsip yang deikian maka kita akan menjadi makhluk yang bijak yang dapat menempatkan sesuatu pada tempatnya. Serta mampu menyikapi segala persoalan yang terjadi, entah persoalan sosial ataupun keagamaan secara bijak dengan memgang beberapa prinsip-prinsip yakni: Tawassuth, ta’addul, tawazzun dan tasamuh.

Tawasuth berarti penengah. Jadi ketika ada persoalan kita tidak perlu memihak sana-memihak sini, kelompok A, kelompok B, organisasi agama N, organisasi keagamaan M dan lain sebagainya, yang jelas kita mengambil prinsip ditengah. Bahwa yang jelas saya adalh orang Islam yang berpegang kepada Al Qur’an dan hadits.

Ta’addul berarti adil. Lawan dari adil adalah zalim. Dalam istilah, adil adalah orang yang mampu menenpatkan sesuatu pada tempatnya. Adil bukan berarti bahwa orang harus sam-sama kaya, bukan berarti roti si A yang berbadan gede harus sama besarnya dengan roti si B yang bertubuh kecil. Yang jelas adil adalah mampu untuk melihat fungsi ke depan yang diiringi dengan pertimbangan-pertimbangan matang. Inilah yang kita sebut dengan istilah tawazzun. Melakukan pertimbangan-pertimbangan matang dengan melihat sisi baik dan sisi buruk terhadap segala persoalan yang terjadi.

Dan terakhir tasamuh, yang berarti toleran. Kita mesti menyadari bahwa “semua tak sama…” artinya manusia mempunya berbagai prinsip yang mesti kita hormati dan tidak dapat kita paksa untuk meninggalkannya. Artinya, kita tidak boleh memaksakan keinginan kita, prinsip kita pada orang lain, sebaliknya orang lain juga tidak berhak untuk memaksakan kehendaknya kepada kita. Contohnya adalah dalam hal ibadah, orang non muslim haram kita paksa untuk mengikuti ritual agama kita, demikian pula orang lain dilarang keras memaksakan kehendak keagamaannya kepada diri kita.

Dengan demikian kita dapat melihat berbagai ciri yang dipunyai oleh manusia ulul albab, yakni:

  1. Sadar bahwa dirinya adalah manusia lemah dan diatasnya ada zat jauh lebih kuat dan lebih-lebih yang lain yakni Tuhan sehingga sudah seharusnya ia mengabdi kepada Tuhan. Namun sebagai manifestasi (bayangan) dari Tuhan, ia tetap memanggul tanggungjawab pimpinan (khalifah) di muka bumi, dan tentunya diniati dengan “ ﻡﻳﺤﺮﻟﺍﻥﻤﺤﺮﻟﺍﷲﺍﻢﺴﺒ “.
  2. Dalam menghadapi persoalan-persoalan diliputi jiwa optimis dan menganggap persoalan itu sebagai suatu tantangan. Namun dalam menghadapinya pun tak perlu ‘ngoyoworo’, kita mesti berusaha semampu kita, namun semua hasilnya jelas pasti dikembalikan kepada Allah. Karena dialah yang maha kuasa dan maha pemberi petunjuk.
  3. Berfikir bijak dalam melihat apa-apa yang kita temukan dari panca indera kita. Dari segala sesuatu yang kita temukan, kita mesti belajar apa yang ada di balik itu. Sama halnya dengan perintah pertama Muhammad ketika ia menerima wahyu pertama kali, yakni Iqra’ (bacalah). Baca yang dimaksud di sini bukan berarti hanya membaca Al Qur’an atau buku saja, tetapi lebih dari itu perlu kita membaca alam dan segala sesuatu yang kita jumpai.
  4. Berfikir kritis dan berfikiran bijak dalam memahami perbedaan dan persoalan sosial kemanusiaan. Sebagai kader yang menjadi khalifah dan hidup di tengah-tengah masyarakat, seharusnya kita dapat menjadi pemimpin yang mampu mengungkapkan ide-ide baru dan cerdas serta mengayomi kepentingan orang banyak, bukan hanya kepentingan diri sendiri. Dan ia pun tetap melakukan kontrol terhadap kehidupan sosial dengan tindakan-tindakan kritis.
  5. mampu mengambil pelajaran dari apa yang pernah ia alami. Contohnya ketika ia mendapatkan sebuah kegagalan dalam hidupnya, ia tidak langsung berputus asa, tetapi ia mengambil hikmah dari persoalannya itu untuk kemudian di terima sebagai sebuah pelajaran, sebagaimana kata-kata bijak “kegagalan adalah satu sukses yang tertunda’.

Demikianlah beberapa prinsip dan ciri yang dimiliki oleh manusia yang bijak. seandainya kita memegang prinsip-prinsip diatas, niscaya kita akan dapat menjaga kedamaian umat dan tak terjebak dalam golongan-golongan tertentu baik golongan kelompok sosial atau kelompok keagamaan. Dan sudah barang tentu kita akan menjadi manusia sempurna, manusia ulul albab yang disanjung oleh Allah SWT. Dan selalu berpegang kuat pada Dzikir, Fikir dan Amal Sholeh.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: