Madrasah Aliyah YATPI Godong

Beranda » Opini » Islam dan Kekerasan Global

Islam dan Kekerasan Global

Islam dalam Kekerasan Global

(Membedah Pemikiran Hasan Hanafi)

By Mahbub Al Junaidi

Sejarah peradaban manusia telah berlangsung ribuan abad, bahkan lebih. Dan selama itu pula kita telah melihat berbagai fenomena yang telah terjadi. Dari catatan sejarah telah terukir berbagai sifat buruk manusia; ke-egois-an, keserakahan, kekarasan, kekejaman, ke-diktatoran, dan lain lain, dan sifat-sifat itu selalu berkembang seiring dengan perkembangan peradaban manusia. Era dekolonisasi ataupun prasasti perjuangan kemerdekaan (semisal revolusi Prancis) tidak mampu menghentikan eegoisme manusia untuk menguasai manusia lain. Dan penjajahan masih tetap berlangsung walaupun dalam bentuk yang berbeda, kapitalisme dan gerakan globalisasinya.

Tentu saja yang menjadi korban adalah negara “timur”, sedangkan yang berkuasa adalah dunia Barat. Konsekwensinya, bukan hanya secara materi saja dunia timur terjajah oleh dunia Barat tetapi peradaban, ilmu pengetahuan, dan nilai-nilai modern telah –secara langsung ataupun tidak– meracuni masyarakat Timur. Lebih dari itu mulailah terjadi bentuk-bentuk perlawanan yang dilakukan oleh orang-orang tertindas, termasuk dari kalangan Muslim dan gerakan-gerakan separatis yang lain.

Hal inilah yang kemudian menimbulkan reaksi diskursus dari para intelek dan kaum cendekiawan. Salah satunya adalah Hassan Hanafi, seorang Guru Besar Fakultas Filsafat Universitas Kairo. Beliau memperoleh gelar Doktor di Universitas Sorbonne, Paris (1966). Ia menjadi sangat terkenal ketika mengungkapkan sebuah gagasannya, Kiri Islam. Namun dalam sekelumit tulisan ini, akan dikemukakan pandangan beliau terlebih dahulu tentang kekerasan dalam kosmologi Islam.

***

Timbulnya kekerasan dan pemberontakan sebenarnya merupakan sebuah konsekwensi dari adanya Ikroh (pemaksaan), yang di dalam al-Qur’an disebut sebanyak tujuh kali. Secara sadar ataupun tidak kerap sekali terjadi pemaksaan dala kehidupan sehari-hari kita. Mematuhi aturan yang diterapkan pemerintah, mengikuti idiologi Pancasila, ataupun mengikuti idiologi-idiologi salah satukelompok agama, bahkan seorang Da’I ataupun dosen ataupun guru itupun dapat disebut melakukan kekerasan terhadap kumnya agar mengikuti apa yang ada dalam pikirannya.

Dalam pandangan global, terjadi juga berbagai praktek pemaksaan dari dunia Barat ke dunia Timur. Sejak diketemukannya tekhnologi arung samudera (Kapal) dan perjalanan sejarah Christoper Columbus, keinginan untuk memperluas kerajaan dan mengembangkan prinsip feodalisme semakin besar. Maka kemudian timbullah usaha kolonisasi / penjajahan ke berbagai negara-negara / kerajaan-kerajaan di seluruh dunia. Sejak inilah diyakini sebagai awal mula Globalisasi. Dunia menjadi semakin sempit dan mudah dijangkau. Negara-negara jajahan (Timur) mau tidak mau (dipaksa) harus mengikuti budaya dan nilai-nilai yang dibawa penjajah. Pemerintah setempat menjadi kerbau yang dicocok hidungnya Maka kemudian timbullah reaksi-reaksi orang-orang bumiputrasebagai kekuatan yang hendak mempertahankan tradisi. Kaum muslim fundamental, yang merupakan kaum muslim koservatif tradisonal  menjadi kekuatan yang sangat kuat untuk melawan tirani penjajah dan pemerintah yang hendak menerapkan idiologi-idiologi modernisasi sekuler. Walaupun memang dalam pandangan-pendangan keagamaan terkesan eksklusif dan koservatif, bahkan terkesan kaku, seperti berjenggot, bercadar, celana congklang, bersorban dan lain lain, namun ia mutlak ada.

Pada akhirnya era kolonisasi telah berganti dengan era dekolonisasi. Namun bukan berarti perlawanan kaum fundamental ini berakhir. Pada saat kemerdekaan suatu negara ini dicapai, baik dari perlawanan masyarakat bumiputra ataupun hasil perdamaian, ia tentu butuh uluran tangan negara-negara adidaya untuk menentukan langkah pasca kemerdekaan. Dan saat inilah sisi kemanusiaan yang licik kembali muncul. Beberapa orang perwakilan negara memanfaatkannya untuk menunjukkan kekuatan dirinya, sedangkan dari negara lain berusaha untuk mengikat negara itu dengan bantuan, yang akhirnya mengembangkan kapitalisme. Inilah masa rekolonisasi. Budaya-budaya barat pun kemudian dikembangkan, idiologi-idiologi barat pun kemudian diperkenalkan sebagai idiologi yang idealis, karena mengangkat demokrasi dan hak-hak masyarakat bawah. Kekuasaan Taghut (hukum manusia) memulai perannya mengatur peri kehidupan manusia. Dan saat inilah timbul kembali kaum-kaum yang memperjuangkan dan meyakini kekuasaan hakimiya (hukum Tuhan). Bahkan perlawanan-perlawanan yang dilakukan cenderung mengarah pada kekerasan. Sehingga dengan mudahnya kaum Barat mengidentikkan Islam sebagai teroris yang penuh dengan kekerasan, pertumpahan darah, tidak manusiawi dan sebagainya. Di sisi lain, Barat tanpa disadari juga tengah melakukan kekerasan dengan memaksakan budayanya, menganggap Islam sebagai teror serta melakukan gerakan-gerakan kapitalisme. Sedangkan pemerintah hanya menjadi pecundang dan tak mampu berbuat apapun, bahkan ia cenderung kebarat-baratan. Disamping karena tangan kapitalis yang demikian kuat, para pemimpin itupun berasal dan pernah menyerap ilmu dari barat, sehingga menganggap Barat mempunyai nilai-nilai idealis dan menjadi panutan. Ujungnya, kekerasan pun dilakukan oleh kedua pihak pemerintah ataupun pemberontak. Pemerintah memaksakan kehendak dengan menumpas pemberontak, sedangkan kaum pemberontak memaksakan dan meyakini hakimiya harus tetap tegak.

Untuk itulah perlu sebuah langkah perdamain dan anti kekerasan. Dan ini mungkin saja terjadi, sebab ada beberapa hal yang mendasarinya:

  1. Kekerasan dalam Islam kontemporer merupakan bentuk ekspresi perlawanan kelompok Islam terhadap rezim politik yang berkuasa, sedangkan kebebasan berekpresi itu sendiri adalah hak dari semua ideologi (kapitalis, demokrasi, marxis, dan sebagainya). Karenanya kaum Islam mesti berhak mendapatkan tempat untuk berekspresi, seperti contohnya melalui media massa.
  2. Islam tidak hanya sebagai doktrin namun juga pranata hukum, bukan hanya sistem keyakinan namun juga gaya hidup, karenanya wajar jika Islam diberi tempat untuk berpolitik melalui partai-partai politik.
  3. Demokrasi harus ditegakkan. Jika rezim politik yang berkuasa mampu menerapkannya bukan tidak mungkin kekerasan dapat dikurangi.
  4. Kebebasan untuk menunjukkan taringnya sebagai sistem yang mendapat tempat di hati masyarakat. Jika rezim politik mampu merebut hati rakyat dengan sistem yang ditawarkan, maka sudah seharusnya sistem ini digunakan. Demikian pula sebaliknya, Islam berhak untuk ditawarkan sebagai sistem yang seharusnya digunakan.
  5. Pemahaman dan penerapan Islam dalam bentuk sehari-hari. Jika ini dapat dilakukan, Westernisasi yang diyakini sebagai budaya barat jelas akan ditolak mentah-mentah. Demikian pula bagi kaum fundamental akan semakin tertekan dan kehilangan kesempatan dalam perekrutan anggotanya.
  6. Sudah seharusnya kaum lemah / tradisional (Islam) diberi tempat dalam pemerintah (pembagian kekuasaan). Dengan demikian seluruh eleman merasa terwakili dan bersama-sama sebagai satu bangsa. Pemberian tanggungjawab akan mengarahkan garis perjuangan mereka, karena merekapun, sama halnya dengan politisi, berpikir “Tuhan lebih cepat mengubah keadaan dengan tangan kekuasaan daripada agama”
  7. Jika secara psikologis, pembagian kekuasaan tidak dapat diterapkan, paling tidak aktifitas-aktifitas keislaman dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak diterapkannya aktifitas-aktifitas Islam (seperti kejujuran, kerja keras, dedikasi, dan sebagainya) telah merebakkan praktek-praktek korupsi budaya konsumtif, hidup mewah, kemwahan, kejahatan, kekerasan, dan lain-lain.
  8. Reintegrasi kelompok-kelompok marginal ke dalam sebuah struktur kenegaraan. Kelompok-kelompok marginal (Islam) seharusnya tidak dianggap sebagai penentang, pemberontak dan pelawan pemerintah, namun ia adalah satu bagian dari keseluruhan masyarakat sebuah negara.
  9. Anggapan bahwa kekerasan hanyalah dimiliki oleh satu kelompok merupkan satu penyebab munculnya kekerasan. Padahal dalam setiap kelompok, entah agama atau tidak, seperti Kristen, Yahudi, Marxis, Zionis, dan lain lain pernah ada unsur kekerasan. Jadi kekerasan bukanlah milik satu kelompok (Islam).

Selanjutnya dalam membangun sisitem sosial dalam sebuah negara, perlu adanya rekonstruksi kultur masyarakat, agar rakyat pun tidak hanya sebagai penonton, ataupun ‘intermezzo’ dalam kehidupan perpolitikan.

  1. Dari tradisi menuju idiologi politik. Tradisi yang masih mengakar dan mendarah daging dalam masyarakat tidak seharusnya dirubah secara total oleh penguasa. Jika ia memaksakannya, maka ia niscaya mendapatkan perlawanan rakyat arus bawah. Sebaliknya jika ia menggunakan dan mempertimbangkan tradisi ke dalam idiologi politik, maka ia tidak akan terjebak dalam sekularisasi.
  2. Dari arus vertikal menuju arus horisontal. Dalam pemahaman awam masih menganggap bahwa hubungan antara penguasa dan rakyat sebagaimana hubungan tuan dan hamba. Padangan vertikal ini layaknya hubungan superior-inferior akan berdampak pada pembentukan masyarakat berkelas-kelas, urusan kenegaraan terbatas pada birokrat saja, konsekwensinya akan timbul pemerintahan diktator, otoritarian dan sebagainya. Sedangkan pandangan horisontal akan membawa padangan hidup pada sebuah gerakan yang selalu dinamis. Birokrasi akan menjadi partisipasi masyarakat, masyarakat patriarkal akan berubah menjadi masyarakat yang bebas dimana setiap manusia mempunyai derajat sama.
  3. Dari pasrah pada nasib menuju kebebasan berkehendak.
  4. Dari ilham menuju akal. Peran pemimpin agama terkadang mengarahkan manusia kepada sesuatu yang tak masuk akal. Karenya perlu pertimbangan otak dalam melakukan sebuah revolusi.
  5. Dari logos menuju praxis. Perlu adanya re-edukasi pemahaman masyarakat untuk berusaha mengubah dunia, bukan hanay sekadar memahami dunia.
  6. Dari nilai pasif menjadi nilai aktif.
  7. Dari ritual menjadi tindakan sosial. Ritual sebenarnya lebih cenderung bersifat simbolis yang menyiratkan makna dan menumbuhkan motivasi. Apabila ritual dilakukan secar signifikan, maka akan berkembang pada tindakan sosial. Karenanya pada masa kolonisasi, penjajah berupaya menghalangi acara² ritual.
  8. Dari kharisma menuju gerakan masa. Seorang pemimpin yang kharismatik dapat menjadi senjata paling ampuh dalam menggerakkan massa. Pidato-pidato yang meluap-luap dapat menjadi api semangat massa.
  9. Dari orientasi masa lalu dan masa depan menjadi orientasi masa sekarang. Masa lalu dapat menjadi pemicu sekaligus pelemah gerakan. Sedangkan gambaran cerah masa depan (akhirat) bukanlah menjadi alasan untuk lari dari masa kini.
  10. Dari prinsip keabadian menuju prinsip (keterbatasan) masa. Impian kejayaan yang abadi dengan keterbatasan masa meupakan upaya optimistis untuk selalu berjuang pada saat ini. Lebih mudahnya dapat digambarkan bahwa kemerdekaan adalah keinginan yang abadi namun kita dibatasi oleh waktu, karenany perjuangan harus segera diselesaikan.

***

Upaya barat (baca: kapitalisme) dalam memperluas kekuasaannya telah menimbulkan berbagai dampak yang teramat kompleks. Kompleksitas kapitalisme tersebut menjadi satu dasar utama diperlukannya sebuah etika global dalam melawan ‘agama’ tersebut. Agama sebagai sumber nilai etika perlu dikaji dan disatukan dalam persepsi kemanusiaan global.

Sebagaimana diketahui, pemahaman tentang agama selalu diidentikkan dengan alam supernatural, magis, ritual, kepercayaan, dogma, institusi dan lain lain. Namun pemahamn tersebut tidak sepenuhnya benar dalam Islam. Terminologi yang paling tepat dalam merepresentasikan Islam adalah etika, wawasan kemanusiaan, ilmu sosial dan idiologi. Atau dalam kata lain, Islam adalah penggambaran manusia dalam masyarakat, kebutuhan utamanya, komitmen moralnya, dan peruatan sosialnya. Islam dapat pula dipandang sebagai system of ideas yang merupakan hasil perjalanan panjang sejarah melewati periode-periode waktu sebelumnya. Mulai dari nabi Adam sampai dengan Isa. Semua periode-periode wahyu terdahulu mempunyai tujuan yang sama, yaitu membebaskan kesadaran manusia dari penindasan sosial dan natureal dari manusia yang lain agar dapat menemukan transendensi Tuhan, atau dengan kata lain, agar dapat berafiliasi terhadap prinsip universalitas tunggal.

Dan lepas dari pandangan relativisme, skeptisisme, agnotisisme, bahasa, dan perkembangan pengetahuan akan meninggalkan semua kesimpulan yang absolut. Oleh sebab itu, secara epistemologis sangan mungkin terwujud kemungkinan menembus batas perbedaan latar dan kepentingan pada masyarakat yang beragam menuju prinsip kognitif tunggal. Asas etika tunggal ini kemudian bukan tidak mungkin diterapkan, karena pada dasarnya akal manusia dapat menerima prinsip universal. Agama adalah sebuah prinsip universal atau sering diistilahkan sebagai transendensi. Secara epistemologis transendensi berarti alam luar. Transendensi merupakan fungsi akal, merupakan prinsip epistimologis, melewati alam luar, mengarah ke depan secara permanen melawan dogmatisme dan keterikatan. Dengan demikian transendensi juga merupakan fungsi ontologi (eksistensi) sebab fungsi ini identik dengan fungsi akal. Lebih lanjut apabila epistemologi dan ontologi dipersatukan maka akan terwujud aksiologi, menjadi motivasi perbuatan manusia dan menjadi orientasi tujuan hakiki.

Dalam kerangka wahu terdapa lima tujuan universal sebagai asas positif hukum Islam yang merupakan tolok ukur (core value) bagi etika global.

1)      Pemeliharaan manusia sebagai tolok ukur utama dan absolut.

2)      Pemeliharaan akal manusia menentang segala bentuk pengrusakan pikiran seperti alkohol, obat-obat terlarang, kebodohan, dan lain lain.

3)      Akal menjadi inti ilmu pengetahuan, karenanya perjuangan untuk kebenaran pengetahuan menjadi salah satu komponen etika global.

4)      Menjunjung tinggi harkat manusia dan kehormatan masyarakat.

5)      Pemeliharaan kesejahteraan individu dan negara merupakan salah satu komponen utama bagi pembangunan etika globaldan solidaritas manusia.

To be continued…

Godonk, 17 March 2003


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: