Beranda » Articles posted by MA YATPI Godong

Author Archives: MA YATPI Godong

Kategori

OSIS MA YATPI Peduli Banjir Pati

Madaliya peduli Bencana

Terjadinya bencana banjir di Kabupaten Pati yang terjadi awal tahun 2014 telah menimbulkan banyak penderitaan bagi masyarakat di Kabupaten Pati. Praktis meluapnya beberapa sungai dan hujan yang terus menerus lantas mengakibatkan banjir di beberapa daerah pati hingga melumpuhkan ekonomi daerah ini.

(lebih…)

POS UN 2014 dan Perubahan di dalamnya

Prosedur Operasional Standar Ujian Nasional 2014 telah terbit (Pos bisa didownload di sini). Tidak banyak perbedaan dengan POS 2013, kecuali hari dan jadwal pelaksanaan ujian. Ujian Nasional tahun 2014 dilaksanakan mulai tanggal 14 – 16 April 2014, dengan masing-masing 2 mapel per harinya. Namun ada yang berbeda pada ketentuan kelulusan peserta didik.

(lebih…)

Kemah Pelantikan Bantara 2013

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Kegiatan sekolah pada semester gasal MA YATPI ditutup dengan kegiatan Pramuka Pelantikan Bantara pada tanggal 13-15 Desember 2013. Perkemahan ini dilaksanakan di desa Prawoto Kecamatan Sukolilo Kabupaten Pati, tepatnya di komplek pemakaman Raden Bagus Haryo Mukmin atau lebih dikenal dengan mbah Tabik.

(lebih…)

MA YATPI Godong Pertahankan Juara Voli MA Se-Kabupaten Grobogan

100_4680

MA YATPI Godong berhasil mempertahankan gelar jawara voli MA se-Kabupaten Grobogan setelah mempecundangi MAN 1 Purwodadi dua set langsung. Kemenangan ini sekaligus mengulang final lomba voli Porseni tahun sebelumnya, 2012.

(lebih…)

RUWAH, RUWATAN DAN TAKHALLI

By Emje

Semenjak dahulu, bulan Ruwah atau dalam Islam disebut Sya’ban, selalu dianggap istimewa oleh para leluhur kita, khususnya masyarakat Jawa. Mereka menganggap Ruwah sebagai bulan istimewa, yang karena itu pula mereka biasa menggelar ruwahan atau ruwatan.

Ruwatan sendiri sesungguhnya merupakan sebuah upaya –biasanya melalui ritual– guna membersihkan diri dari hal-hal yang dianggap buruk atau membuat sial. Dalam tradisi jawa ada bermacam-macam kegiatan yang dilakukan. Mulai membuat makanan-makanan khas jawa, seperti tumpengan, apem serta masakan-masakan tradisional lainnya, sampai pada acara nyadran –dalam tradisi Hindu disebut sraddha– yakni menengok dan mendoakan arwah leluhur.

Tradisi ini begitu mengakarkuat dalam masyarakat jauh sebelum Islam masuk ke Nusantara. Karena Nusantara memang lebih dulu mengenal Hindu daripada Islam. Hingga kemudian hadirlah Islam dengan keyakinan yang berbeda beserta budaya yang mengiringinya. Tentu saja, mengubah keyakinan yang telah membudaya bukan hal mudah, apalagi tradisi dan keyakinan senantiasa bersentuhan dengan rasa/ emosi yang (kadang) tidak masuk akal. Karenanya para wali dan ulama itu pun menggunakan cara yang menyentuh rasa dan tidak serta merta mengubah total tradisi yang ada.

(lebih…)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 718 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: