Beranda » Opini » Potensi Manusia; Perusak dan Sumber Kekuatan Agama

Potensi Manusia; Perusak dan Sumber Kekuatan Agama

Oleh Mahbub Al Junaidi

Gambaran lengkap tentang agama tak begitu cerah. Tak seluruhnya berisi kearifan dan ilham. Bahkan seringkali mengandung hal-hal yang kejam; cinta dan kebijaksanaan amat jarang; dan sikap-sikap mereka aneh kalau bukan memuakkan. Suatu pandangan yang seimbang tentang agama-agama umat manusia akan mencatat penyimpangan-penyimpangan serta keluhurannya. Pandangan demikian mencakup pengorbanan manusia serta pengkambinghitaman orang, fanatisme serta hukuman keji…

Houston Smith

Agama seperti dipandang banyak orang begitu suci karena memuat nilai-nilai luhur kemanusiaan ternyata telah tercoreng dan berubah menjadi sosok yang begitu bengis dan menakutkan. Agama, dengan simbol-simbol khususnya telah menciptakan banyak perbedaan yang mengakibatkan orang menjadi terpecah, bahkan melahirkan perang, kerusakan, kekejaman dan sebagainya.

Klaim bahwa agamanya merupakan satu-satunya yang benar (Truth klaim) maupun satu-satunya agama yang bisa mencapai keselamatan (Salvation klaim) adalah hal yang menjadi salah satu faktor utama adanya perpecahan dan konflik antar agama, disamping sisi sejarah[1]. Klaim-klaim pembenaran seperti itu akan menjadikan seseorang eksklusif dan menganggap bahwa orang lain salah, kafir dan wajib diperangi, yang akhirnya berbuntut pada peperangan. Mereka tak pernah menyesal harus berkorban banyak uang, membakar tempat ibadah agama lain, membunuh wanita tak berdaya, bahkan menghabisi nyawa bayi sekalipun. Tak terbersit dalam fikirannya bahwa mereka juga hamba Tuhan dan diciptakan dengan mengikuti hukum Tuhan. Mungkin dalam fikirannya, surga dan pahala yang ia dapatkan ketika menghalalkan darah ‘orang kafir’, dan kalaupun ia mati, syahid dan pahlawan yang ia dapatkan.

Lebih jauh lagi, anggapan-anggapan kesempurnaan yang ada dalam agamanya menjadikan ia hanya mau patuh dan tunduk kepada hukum agamanya, sedangkan hukum ataupun norma lain yang bukan berasal dari agamanya adalah salah dan karena itu harus diganti. Akibatnya terjadi usaha pendirian negara agama. Usaha-usaha ini telah dilakukan dengan berbagai cara, baik melalui keras –seperti pemberontakan, demonstrasi anarkhis, hasutan, teror dan lain-lain—  ataupun lunak, termasuk masuk ke kalangan akademik (kampus), sehingga tak jarang kita temui orang-orang yang masih mengartikan secara ‘mentah-mentah’ sebuah hukum. Anehnya, kebanyakan yang ‘masuk perangkap’ fundamentalisme ini adalah orang-orang yang berada di perguruan tinggi umum, yang notabenenya miskin tentang pengetahuan agama.

Begitu mudahnya orang ‘tersentuh’ ketika mendengar –yang ada kaitannya dengan— agama, baik mengenai isu eksternal (seperti peperangan antaragama sebagaimana diatas) ataupun internal[2]. Kenapa orang demikian mudah tersulut dengan isu agama, ada apa dengan manusia beragama itu sendiri, lalu bagaimana jalan keluar dari persoalan tersebut, khususnya di Indonesia yang demikian plural? Kali ini penulis hendak menjawab berbagai persoalan ini dengan berbagai pertimbangan psikologi.

Potensi Makhluk Manusia

Siapapun pasti akan mengakui bahwa manusia adalah sebuah makhluk, dan ada sebuah kekuatan supernatural yang memulai dan menciptakan alam beserta seluruh isinya. Bahkan, Nietche ataupun Mark pasti juga mengakui kebenaran ini. Karena pada dasarnya, manusia adalah makhluk beragama (homo religius). Keyakinan manusia kepada Yang menciptakan ini dimanifestasikan melalui ritual-ritual keagamaan maupun budaya. Hasil temuan para antropolog menunjukkan bahwa masyarakat yang memiliki budaya asli (primitif) dijumpai adanya pola-pola hubungan dengan sesuatu yang dianggap suci dan adikodrati [3]. Dan di masyarakat ini dapat dilihat kepercayaan mereka terhadap kekuatan supernatural itu mulai dari benda-benda yang dianggap suci, roh-roh yang menunggu alam sampai kepada dewa-dewa yang mengatur alam ini.

Kepercayaan kepada kekuatan tunggal itu pun ada yang ‘terlahir’ dari kepercayaan / agama yang dibawa oleh Rasul yang membawa pesan-pesan dari Tuhan berupa wahyu. Agama ini kemudian disebut sebagai agama samawi, agama yang berasal dari langit. Dan kita kenal pula beberapa agama itu diantaranya Islam dan Kristen/Yahudi. Walaupun ada agama lain seperti Budha, Hindu dan lain sebagainya yang memiliki kitab, namun hal ini tidak disebut secara eksplisit oleh Qur’an tentang keberadaannya. Walau demikian dua agama ini dapat disamakan dengan Islam dan Kristen karena hanya mengakui adanya kekuatan tunggal (Monoteisme).

Keberadaan lembaga-lembaga agama itu (Islam, Kristen, Budah, Hindu, aliran kepercayaan, dan lain-lain) merupakan tujuan dan aplikasi kemampuan dan potensi-potensi manusia. Potensi-potensi itu adalah iman, nalar pikiran, intuisi perasaan dan indera[4]. Dengan menggunakan empat potensinya, manusia mendapatkan agama sebagai lembaga kebenarannya, yang didalamnya berisi nilai-nilai luhur, baik menyangkut tentang sang pencipta atau yang ada hubungannya dengan manusia dan lingkungannya.

Kodrat tertinggi manusia yang membedakannya dengan hewan dan makhluk lainnya terletak pula pada kemampuan nalar dan ruh. Hewan mempunyai jasmani / badan seperti halnya manusia, juga mempunyai potensi-potensi yang tidak banyak berbeda dengan manusia, tetapi tidak mempunyai perasaan estetik, seni, keilmuan yang semuanya hanya dimiliki oleh ruh. Pemuasan kebutuhan jasmani –sama juga dengan hewan– didapatkan dengan makan, minum, seks, bernafas, berpakaian dan yang terindera lainnya, sedangkan pemuasan kebutuhan ruhani didapat melalui lembaga agama, filsafat, seni, ilmu, keadilan, pengakuan dari orang lain, dan lain sebagainya[5].

Para pemikir-pemikir muslim juga tidak jauh berbeda pendapat tentang potensi manusia, semisal Al-Kindi (796 – 873 M.) membagi jiwa manusia menjadi 3 daya; daya nafsu yang berpusat di perut, daya berani yang berpusat di dada, dan daya berfikir yang berpusat di kepala (otak). Sedangkan Ibnu Sina (tidak berbeda jauh dengan filosof-filosof Yunani) membaginya dengan 3 jiwa yang masing-masing mempunyai daya yang berbeda-beda, yakni[6];

  1. Jiwa tumbuh-tumbuhan. Jiwa ini mempunyai tiga daya yaitu daya makan, daya tumbuh, dan daya membiak.
  2. Jiwa binatang. Mempunyai dua daya yaitu daya penggerak dan daya pencerap. Daya penggerak dapat berbentuk nafsu, amarah dan bisa pula berpindah tempat. Sedangkan daya pencerap dapat diterima melalui pancaindera lahir (mata, telinga, mulut, kulit dan hidung) serta indera batin, yakni; pertama, indera bersama, bertempat di bagian depan otak yang berfungsi menerima kesan-kesan dari pancaindera luar. Kedua, Indera penggambar, bertempat di bagian depan dan bertugas melepaskan kesan-kesan yang diteruskan indera bersama. Ketiga, Indera pengreka yang berada di otak tengah dan bertugas untuk memisahkan kesan-kesan yang diterima kemudian digabungkan lagi. Keempat, indera penganggap yang berada di otak tengah dan berfungsi mengungkap arti yang dikandung gambaran itu. Dan kelima, indera pengingat yang berada di bagian belakang otak dan bertugas menyimpan gambar itu.
  3. Jiwa manusia. hanya mempunyai satu daya berfikir yang disebut akal, dan akal ini dibagi dua; akal praktis yang berfungsi menangkap gambar-gambar empiris dan akal teoritik yang berfungsi menangkap hal-hal yang tak pernah ada dalam materi seperti Tuhan, roh, dan sebagainya.

Dari ketiga jiwa yang dimiliki manusia, nampaknya ada dua jiwa yang sangat berperan dalam segi hubungan sosial, yakni jiwa binatang dan jiwa manusia. Jiwa binatang mengarahkan seseorang untuk berbuat apapun untuk memenuhi nafsunya, berbuat sadis yang bahkan bisa melebihi binatang itu sendiri. Sedangkan jiwa manusia sangat ditentukan oleh akal yang mempunyai kemampuan untuk mencari membedakan mana yang benar dan mana yang salah dengan pola berfikir religi, ataupun dengan pola fikir falsafi yang dapat menemukan kebenaran-kebenaran sejati.

Nilai-nilai Luhur Agama sebagai Lembaga Kebenaran

Pandangan para pemikir tentang agama sangat beragam, bahkan yang menyangkut tentang sejarah terciptanya agama itu sendiri[7]. Agama sangat sering diidentikkan dengan hal-hal yang berbau spiritual, magis, kepercayaan, supranatural, dogmatis, kelembagaan dan lain sebagainya. Pun tentang sejarah adanya agama itu sendiri nampaknya dipandang secara subyektif. Karena itu mesti ada batasan tentang term agama itu sendiri. Agama yang dimaksud ini adalah sebuah sistem yang mengatur dan memuat tingkah laku kita atas dua hal, yakni vertikal yang terkait dengan ketuhanan, dan horisontal yang berhubungan dan terkait dengan hubungan antar manusia ataupun  lingkungan.

Tingkah laku keagamaan vertikal yakni berhubungan dengan Tuhan jelas menjadi tujuan pokok seluruh agama. Dari berbagai lembaga kebenaran yang ada memang ada perbedaan kepercayaan tentang siapa Tuhan itu. Namun pada dasarnya apapun nama Tuhan itu, terbagi berapa Tuhan itu (politeisme), dan apapun bentuk Tuhan itu digambarkan, Tuhan tetap merupakan sebuah kekuatan besar yang ada di luar kemampuan kodrati manusia dan ‘ada’ pertama yang mengadakan alam, baik makrokosmos ataupun mikrokosmos. Manusia yang beragama meyakini bahwa seluruh tingkah lakunya dilakukan atas dasar perintah dari ‘pemilik kekuasaan tertinggi’ itu. Aturan-aturan yang telah ditetapkan lembaga kebenaran merupakan wahyu dari Tuhan dan harus dilaksanakan sebagai pengabdian kita kepada-Nya.

Agama –apapun itu— pastilah mengajarkan hal-hal yang positif, cinta kasih, tolong menolong, pengabdian pada sang pencipta, dan lain sebagainya. Tidak ada sesuatu ajaran pun yang menyuruh kita untuk berbuat kekejaman, kerusakan, ataupun hal-hal lain yang sebetulnya hanya pantas dilakukan oleh binatang. Islam, Kristen, Hindu, Budha bahkan aliran-aliran kepercayaan jauh sebelum kita mengenal adanya agama wahyu. Tak bisa dipisahkan antara agama dan susila, karena ini sangat terkait, sebagaimana yang diungkapkan Mahatma Gandhi;

“Keagamaan dan kesusilaan harus bergandengan tangan, religi sejati dan kesusilaan yang diceraikan dari keagamaan tidak berharga lagi, dan agamaagama pun akan runtuh apabila dasar-dasar kesusilaannya dirubuhkan”[8]

Dalam sejarahpun telah dapat dilihat bagaimana mulia dan luhurnya tindak tanduk para pemimpin dan penyebar agama. Isa al-Masih dengan cinta dan kasihnya menyembuhkan orang-orang yang sakit dan menolong kaum lemah serta berani berkorban ‘disalib’ demi membebaskan dosa kaumnya. Muhammad dengan kesederhanaan, welas asih dan kejujurannya menyempurnakan akhlak. Ataupun Sidharta Gautama yang rela melepas mahkotanya demi membela kaum lemah dan menjalani hidup sederhana dalam mencapai Nirwana. Dan masih banyak contoh-contoh lain cerita tentang mulianya para utusan Tuhan.

Namun, dalam sejarah juga telah dilukiskan bagaimana berubahnya wajah agama menjadi begitu mengerikan. Perang antar agama yang mengakibatkan terbunuhnya hamba-hamba Tuhan, anak-anak yang kehilangan orang tuanya, sadisme terhadap orang yang berbeda aliran mewarnai perbedaan-perbedaan yang ada pada agama. Sikap-sikap yang eksklusif dan intoleransi juga sering ditunjukkan kepada orang yang berbeda aliran, sehingga sulit dipercayai bahwa itu dilakukan oleh orang-orang yang beragama. Jawaharlal nehru sendiri sangat menyayangkan hal ini,

“Agama, sering mendatangkan pertikaian dan perang yang sengit. Menarik untuk mengamati asal-usul munculnya agama-agama di dunia dan lalu membandingkannya. Banyak kesamaan dalam pandangan dan ajaran mereka, sehingga kita bertanya mengapa orang dapat begitu bodoh mempersoalkan hal-hal sepele agama dan bukan intisarinya. Ajaran-ajaran agama yang mula-mula sudah ditambah dan dicincang, sehingga amat sulit mengenalinya kembali, dan tempat guru digantikan oleh orang-orang fanatik yang sempit pikirannya dan tak dapat bersikap tenggang menenggang. Seringkali agama menjadi budak politik…”[9]

Terlihat perbedaan yang begitu mencolok antara idealitas dengan realitas. Agama yang sebenarnya memuat ajaran-ajaran susila, kemanusiaan, cinta kasih, ternyata juga mempunyai wajah yang begitu bengis, kejam, penuh darah dan sarat perbedaan. Agama dengan simbol-simbolnya itukah yang menjadi perbedaan, ataukah ajaran dari agama itu sendiri? Nampaknya dengan melihat begitu sucinya ajaran agama dan sebagai simbol lembaga kebenaran, maka kesalahan akan dikembalikan kepada pelaku agama, manusia.

Agama dan Potensi Manusia

Peperangan dan sikap eksklusif yang muncul atas perbedaan agama tentunya dilakukan oleh orang-orang yang beragama. Agama sebagai tempatnya berpijak atas potensi-potensi manusia dipandang mempunyai perbedaan dengan agama yang dimiliki orang lain, sehingga ia pun akan mempertahankan kebenaran agamanya. Peperangan itu tak akan muncul jika ia tidak yakin bahwa apa yang dibelanya adalah benar dan merasa menjadi miliknya. Sayangnya, loyalitas ini ditunjukkan dengan cara eksklusif terhadap aliran / orang lain.

Dari sudut kejiwaan, ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang terlalu fanatik dan eksklusif terhadap agama lain sehingga menimbulkan peperangan dengan agama lain, yaitu faktor intern dan faktor ekstern.

  1. Faktor Intern

Faktor-faktor ini keluar dan muncul dari dalam diri orang itu sendiri. Ada beberapa hal yang termasuk ke dalam faktor ini, yaitu; egoisme, potensi jiwa kebinatangan, tidak optimalnya fungsi daya akal, serta Thymos.

-          Egoisme, terlahir dari usaha-usaha yang dilakukan manusia untuk memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan manusia (seperti dikemukakan diatas) terdiri dari dua hal yakni kebutuhan jasmani dan rohani. Namun manusia kemudian cenderung bukan hendak memenuhi kebutuhan tetapi keinginan. Sehingga cenderung untuk memikirkan dirinya sendiri dan mencapai kepuasan. Apapun usahanya, bagaimanapun caranya keinginan harus terpuaskan, biarpun harus membunuh orang lain[10]. Termasuk dalam kehidupan beragama, seseorang pasti menginginkan pengakuan bahwa apa yang ia anggap benar harus juga dianggap benar orang lain. Ia tak pernah memikirkan dan menghormati bahwa orang lain juga memiliki kebenaran yang ia bawa dan berhak memegang dan menjalankan kebenaran itu.

-          Potensi jiwa binatang[11], dimiliki manusia disamping jiwa tumbuhan dan jiwa manusia. setiap orang pasti mempunyai nafsu dan hasrat untuk melakukan kekerasan atau kekejaman. Dan hasrat itu sering ditumpahkan dengan memukul orang lain, binatang, benda-benda mati lainnya atau dengan menonton hal-hal yang berbau kekerasan, seperti tinju, silat, wrestling, dan lain-lain. Maka dengan jiwa kebinatangan itu pula, seseorang dengan bersemangat akan menumpahkannya melalui perang.

-          Tidak optimalnya fungsi daya akal yang dimiliki manusia. Manusia berbeda dengan makhluk lain karena ada satu daya yang tidak dimiliki oleh makhluk lain, yaitu akal. Namun fungsi akal ternyata tidak digunakan seoptimal mungkin, malahan daya lain –yang juga dimilki makhluk lain—seperti daya nafsu dan daya berani yang lebih diunggulkan. Sehingga ketika ada ‘genderang’ perang, maka ia lebih mengutamakan dua daya itu daripada daya akal. Ia mungkin tidak berfikir bahwa apa yang dilakukannya sebenarnya adalah menentang agama, bahwa perang itu ada latar belakang yang menyebabkannya, dan bahwa kita mempunyai kekuasaan untuk berfikir daripada hanya menuruti pikiran orang lain.

-          Thymos, sesuai dengan falsafah Plato, yaitu ‘gairah’ atau keinginan seseorang untuk dihargai, diakui dan diperlakukan adil. Ia seperti rasa keadilan yang merupakan sifat bawaan manusia sehingga cederung untuk merasakan penghargaan diri sendiri. Masyarakat percaya bahwa mereka mempunyai martabat tertentu, karena itu ketika ada sesuatu yang mengancamnya maka akan timbul emosi kemarahan[12]. Sama halnya dengan masyarakat yang sudah memiliki dan memegang lembaga kebenaran, maka akan membela diri ketika ada sesuatu yang mengancamnya. Kejayaan masa lalu yang pernah diperoleh agamanya, serta kekuatan massa besarnya menjadi satu hal yang harus dijaga, dan akan menjadi tidak adil seandainya kejayaan itu direnggut oleh kekuatan lain.

  1. Faktor ekstern

Faktor ini berasal dari luar diri manusia, bisa dari kehidupan sosial, orang lain ataupun lingkungan. Ada beberapa hal yang dianggap (penulis) masuk dalam kriteria ini, yaitu;

-          Masyarakat Eksklusif

Sebagai manusia kita mempunyai kebutuhan sosial berupa pergaulan dengan masyarakat. Ia selalu dipengaruhi oleh orang lain, norma, nilai, peradaban, agama, dan moral masyarakat[13]. Masyarakat yang baik akan menciptakan iklim yang baik; kehidupan religius, norma-norma yang ditegakkan masyarakat, akan menuntun kita kearah kepribadian yang baik. Sebaliknya, masyarakat yang bobrok akan menumbuhkan potensi kebinatangan kita dan ia tidak akan terkontrol, akibatnya kepribadian akan semakin hancur. Dalam kehidupan masyarakat / pergaulan keagamaan kita seringkali menyajikan betapa hebatnya agama yang dianut, betapa sempurnanya ini, sehingga ia harus tetap jaya dan jangan sampai ada agama lain yang lebih unggul. Agama lain adalah kafir, sumber malapetaka sehingga wajib diperangi dan jangan sampai ita bergaul bahkan berbuat baik dengan mereka. Hal-hal yang demikian inilah yang membentuk karakter seseorang menjadi eksklusif dan memusuhi agama lain.

-          Top figur

Masyarakat terdiri dari individu-individu, dan dari individu-individu itu ada yang menonjol dan menjadi idola sehingga berpengaruh kepada sikap masyarakat. Individu yang demikian biasanya adalah pemimpin masyarakat. Kita sering melihat masyarakat yang anarkhis, suka bertindak kekerasan, apakah mereka bertindak sendiri? Tentunya tidak, Masyarakat selalu belajar pada individu besar[14], dan individu ini bisa berbentuk pemimpin agama. Sikap-sikap yang dipunyai pemimpin itu akan berpengaruh besar pada sikap masyarakat pula. Jika sikap eksklusif yang ditampakkan oleh pemimpin, maka sangat besar kemungkinan masyarakat bersikap eksklusif pula. Lebih-lebih jika sikap ini di-doktrin-kan kepada masyarakat.

-          Pendidikan fanatisme

Pendidikan adalah hal yang sangat urgen dalam menentukan kepribadian seseorang. Kalau masyarakat atau pemimpin bisa mempengaruhi seseorang karena ada bentuk sikap yang secara langsung dilihat, maka pendidikan mempengaruhi sisi kognitif, afektif maupun psikomotor seseorang. Ia juga sangat berhubungan dengan daya manusia tertinggi, yaitu akal. Optimalisasi daya akal harus disertai dengan kebenaran pendidikan. Pendidikan yang salah akan berpengaruh besar pada pola pikir dan sikap seseorang. Kesalahan ini diakibatkan oleh sempitnya pandangan terhadap sesuatu hal, karena itu dalam melihat sesuatu harus pula dipandang secara luas. Sebagaimana pandangan tentang agama, peperangan dan pertentangan yang terjadi antaragama atau kelompok itu disebabkan oleh cenderungnya mereka melihat perbedaan, bukan melihat hakekat / intisari agama itu sendiri. Di lembaga-lembaga pendidikan agama sekarang ini masih sering diwarnai fanatisme keagamaan yang menyebabkan sempitnya pengetahuan tentang agama.

-          Dimensi yang berbeda

Pandangan seseorang terhadap sesuatu hal seringkali tidak sama, karena ada perbedaan dimensi pandangan. Mungkin saja seseorang memandang persoalan dari dimensi kesejarahan, tapi orang lain memandangnya dari segi nalar, sehingga terjadi perbedaan yang (kalau orang itu merupakan top figur yang berbeda agama / kelompok) mengakibatkan adanya perpecahan dalam tubuh agama atau kelompok.

Lebih jauh mengenai perbedaan dan peperangan antar agama, bahwa hal itu juga sangat terkait dengan perkembangan jiwa seseorang. Perkembangan jiwa seseorang menurut Jalaluddin dibagi menjadi 2, yaitu faktor intern dan faktor ekstern[15].

Secara garis besar, faktor intern yang berpengaruh pada perkembangan jiwa seseorang adalah:

  1. Faktor Hereditas. Ini merupakan faktor yang berasal dari bawaan secara turun temurun. Sejak Mendel menemukan sifat bawaan dari hasil penelitiannya tentang tumbuhan, manusia semakin percaya bahwa sifat-sifat orang tua ikut pula berpengaruh terhadap kehidupan dan sifat seseorang, terlebih lagi perkembangan ilmu pengetahuan modern semakin maju ketika ditemukannya unsur gen terkecil yaitu DNA.
  2. Tingkat usia. Perkembangan usia dan kondisi seseorang ternyata berpengaruh pula terhadap daya pikir seseorang. Semakin seseorang beranjak dewasa semakin kritis pula pemikirannya. Mungkin pada awal anak belajar tentang ketuhanan, ia membayangkan bahwa Tuhan adalah sesosok makhluk yang bersayap, besar dan selalu duduk diatas singgasana, namun ketika ia beranjak remaja akan ada konflik kejiwaan, yang akhirnya menimbulkan konversi agama pada usia dewasa.
  3. Kepribadian. Ada banyak pendapat tentang kepribadian seseorang. Ada yang berpendapat bahwa kepribadian ini dibentuk oleh hereditas, ada yang berpendapat dipengaruhi oleh lingkungan, dan lain sebagainya. Namun yang jelas setiap orang percaya bahwa kepribadian seseorang berbeda-beda. Dan memang ada sifat yang bersifat tetap yang merupakan bawaan serta ada yang dapat berubah dan dipengaruhi lingkungan (karakter).
  4. Kondisi kejiwaan. Kondisi kejiwaan seseorang sangat terkait dengan hal-hal intern dari dalam diri manusia. Sigmund Freud menunjukkan gangguan kejiwaan ditimbulkan oleh konflik yang tertekan dalam alam ketidaksadaran manusia. Konflik ini akan menjadi sumber kejiwaan yang abnormal. Dan gejala abnormal ini menurut Arno F. Witing bersumber dari kondisi saraf (neurosis) –yang berakibat menimbulkan rasa cemas, obsesi dan kompulsi serta amnesia—, kejiwaan (psychosis) –yang menimbulkan schizoprenia, paranoia, maniac, serta infentil autisme. Kondisi-kondisi kejiwaan ini juga sangat berpengaruh kepada seseorang dalam ‘menemukan agama’, bahkan ketika terjadi koversi agama.

Sedangkan faktor ekstern (faktor dari luar pribadi) juga akan berpengaruh besar, karena pada dasarnya manusia adalah makhluk homo religius dan makhluk sosial. Sehingga jelas dalam hal ini bahwa lingkunganlah kondis jiwa seseorang dapat terbentuk pula. Lingkungan ini terdiri dari tiga, yaitu:

  1. Lingkungan Keluarga. Dimana lingkungan inilah pertama kali seseorang belajar. kakak, ibu, dan terutama ayah adalah sumber belajar anak, dari merekalah ia tiru perilakunya, dari mereka juga ia belajar menjadi baik.
  2. Lingkungan Institusional. Lingkungan ini bisa berupa institusi formal (seperti sekolah) ataupun institusi non formal (organisasi, gank,dan lain-lain) lebih-lebih lingkungan institusi formal, ia merupakan tempat belajar anak, dari sana ia diajar oleh guru-guru yang menentukan tingkat pengetahuannya.
  3. Lingkungan Masyarakat. Pergaulan dengan masyarakat yang mempunyai kepribadian yang berbeda-beda akan membekas pula dalam ingatan dan jiwa seseorang. Ia merupakan unsur yang memberikan pengaruh, namun juga sebenarnya memiliki norma dan tata nilai yang mengikat. Tentunya ketika masyarakat baik dan taat hukum, maka (kemungkinan besar) akan baik pula tingkah laku seseorang, demikian juga sebaliknya.

Kondisi kejiwaan seseorang dalam bertingkah laku agama memang sangat menentukan baik-buruknya sikap beragama. Baiknya kondisi kejiwaan seseorang akan berpengaruh terhadap baiknya ia menjalankan aturan-aturan lembaga kebenaran yang ia anut, demikian juga ia akan dapat mencoreng nama baik agamanya ketika kondisi jiwa seseorang tidak sehat.

Konversi Agama

Kondisi kejiwaan seseorang dalam beragama, tidak selalu tetap, namun berubah-ubah. Terkadang orang yang sebelumnya tak pernah tersentuh agama, tiba-tiba dapat berubah fanatik yang berlebihan. Ia seakan-akan telah menemukan jatidirinya dan ia telah paham dan menguasai betul agama itu. Ada yang menyebutkan bahwa perubahan ini disebut sebagai konversi agama.

Arti kata konversi dalam bahasa Inggris, berarti berlawanan arah (Conversion). Sedangkan Walter Houston Mark, memberikan devinisinya sebagai berikut;

Konversi agama sebagai suatu macam pertumbuhan atau perkembangan spiritual yang mengandung perubahan arah yang cukup berarti, dalam sikap terhadap ajaran dan tindak agama. Lebih jelas dan lebih tegas lagi, konversi agama menunjukkan bahwa suatu perubahan emosi yang tiba-tiba ke arah mendapat hidayah Allah secara mendadak, telah terjadi, yang mungkin saja sangat mendalam atau dangkal. Dan mungkin pula terjadi perubahan tersebut secara berangsur-angsur.[16]

Proses terjadinya konversi agama pada para ‘mujahidin’ tersebut dapat dilihat dari fakta bahwa orang-orang yang kebanyakan ada dalam organisasi ‘berani mati’ itu adalah pada mulanya orang-orang yang belum terlalu dalam memahami agama. Orang-orang yang tergabung dalam laskar ini kebanyakan berbasis pendidikan umum (seperti perguruan tinggi umum) dan tidak banyak yang berasal dari perguruan tinggi agama. Sehingga sekarang ini tak jarang kita temui orang-orang yang berjilbab lebar bahkan memakai cadar untuk putri, dan bercelana ‘congklang’ dan berjenggot (untuk laki-laki).

Pun kebanyakan anggota laskar jihad ini adalah remaja dan orang (yang menginjak) dewasa. Hal ini dikarenakan bahwa pada masa-masa remaja dan menginjak dewasa, seseorang cenderung mengalami kebimbangan dalam menentukan jatidiri. Dalam prosesnya, kita dapat menghubungkannya dengan proses-proses jiwa seperti yang dikatakan Zakiah Darajat. Proses-proses itu adalah[17]:

  1. Masa tenang pertama, dimana sikap-sikap dan tingkah lakunya acuh tak acuh terhadap agama.
  2. Masa ketidaktenangan; dimana ada perasaan ketidak-tenangan, putus asa, bimbang, bingung dan lain sebagainya.
  3. Peristiwa konversi itu sendiri, dimana ia seakan-akan mendapat petunjuk Tuhan dan mempunyai kekuatan baru dalam hidupnya.
  4. Keadaan tenteram dan tenang sebagai akibat dari adanya kekuatan dan hidayah itu. Merasakan dirinya bersih dan tak berbeban.
  5. Ekspresi Konversi, yang ditunjukkan dalam tindak-tanduk dan tingkah laku kehidupan sehari-hari.

Dari proses adanya konversi agama itu, terlihat bahwa seseorang rentan terhadap pengaruh-pengaruh atau doktrin dari luar, ketika ia mengalami masa kebimbangan. Tatkala dalam kebimbangan itu ia menemukan doktrin yang benar, maka akan terbentuklah pribadi yang baik dan berada di jalur yang tepat. Namun ketika dalam kebimbangan itu ia ‘ditemukan’ oleh doktrin yang salah, maka tidak menutup kemungkinan ia menjadi orang yang keliru dalam penafsiran agama.

Sebuah Jalan Penyelesaian

Dalam beragama, seseorang mengalami proses kejiwaan yang dinamis. Banyak faktor-faktor yang berpengaruh pada kehidupan beragama kita, dan kebanyakan faktor itu mengarah kepada pribadi manusia yang mempunyai potensi-potensi yang (disamping baik) juga buruk. Daya-daya dan potensi yang buruk itu menunjukkan adanya insting kematian dan kekerasan. Karena itulah perlu adanya pengendalian insting itu, dan lembaga kebenaran yang sering disebut sebagai agama adalah pengarah dan penuntun untuk sedapat mungkin mengendalikannya.

Ada beberapa hal yang menjadi tawaran sebagai jalan penyelesaian dari adanya potensi konflik dan peperangan agama ini. Pertama, taklukkan unsur kegelapan dan kejahatan jiwa. Potensi-potensi buruk dan insting kematian yang dimilki manusia memang tidak dapat dibuang atau dimatikan, tetapi dapat ditaklukkan. Dan penaklukan ini hanya dapat dilakukan dengan meyakini adanya kekuatan tunggal di luar kuasa manusia yang menentukan dan menolong dengan kekuatannya itu. Ketaatan pada Tuhan, menikmati aturan-aturan yang ditetapkannya serta selalu berserah diri adalah upaya yang paling bagus dalam meredam gejolak insting kematian itu.

Kedua, penyerahan diri yang dimaksud diatas bukan hanya penyerahan diri semata tetapi adanya pembebasan kesadaran manusia dari pemaksaan dan penindasan yang mendewakan manusia[18]. Tanpa sadar kita sebenarnya telah dijajah dan mengagungkan kekuatan lain yang (dapat) berbentuk guru, kiai, pemimpin dan sebagainya dengan doktrin-doktrin yang mereka berikan yang (mungkin saja) salah.

Ketiga, pembebasan penindasan itu juga seharusnya diiringi dengan optimalisasi kekuatan dan potensi positif yang berupa akal. Dengan akal ini seseorang dapat memikirkan lebih dalam tentang arti sebuah ajaran, tentunya dengan berbagai sudut pandang yang berbeda sehingga kita tidak cenderung konservatif dan sempit. Bahkan tidak menutup kemungkinan dengan ini kita akan mempengaruhi orang lain, bukan dipengaruhi orang lain.

Keempat, dengan adanya optimalisasi kekuatan ini, maka tidak menutup kemungkinan terjadinya dialog antar agama. Sikap saling menghormati dan terbuka akan dilakukan karena ia berpandangan luas dan memahami bahwa pada hakekatnya semua agama baik tradisi (turats) ataupun (yang dianggap) modernitas adalah baik[19]. Sering pula seseorang beragama merasa terancam oleh agama lain, padahal prasangka yang demikian belum tentu benar, kalau dikatakan bahwa perang yang terjadi di Ambon karena ia telah diserang dahulu, itu hanya omong kosong. Prasangka yang terancam inilah yang menyebabkannya khawatir sehingga sebelum benar-benar diancam maka ia akan menghancurkannya terlebih dahulu.

Dan kelima, Pendidikan yang menyangkut tentang keagamaan seharusnya dirubah. Pendidikan keagamaan yang (di Indonesia) masih eksklusif (tertutup) seharusnya dibuka lebar-lebar agar orang dengan bebas mengetahui seluk beluk agama lain. Tak perlu lagi IAIN mensyaratkan bahwa yang masuk di IAIN harus beragama Islam, biarkan orang beragama lain mempelajari agama Islam, sehingga ia bisa menyimpulkan apakah Islam begitu bengis dan eksklusif dengan agama lain. Demikian juga sekolah teologi kristen, harus membuka orang yang beragama lain melihat apakah kristen pernah benar-benar mengancam keberadaan agama lain. Walau demikian perlu juga diperhatikan masalah kesiapan kondisi jiwa dan kognisi anak. Untuk anak-anak yang masih dalam ukuran anak-anak dan remaja memang harus ada pembinaan agama agar akhlak anak bisa terkontrol, baik di lingkungan formal (sekolah) atau keluarga, namun ini harus dibatasi pula bahwa pelajaran / pembinaan ini tidak sampai menyinggung kepada klaim pembenaran (truth claim).

Kesimpulan

Agama tak disangkal lagi diperlukan manusia dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan rohaninya. Manusia yang dipenuhi dengan potensi-potensi yang begitu kompleks, termasuk potensi kebinatangan yang melahirkan insting kematian pada manusia, memerlukan sebuah lembaga kebenaran yang mengaturnya. Tentunya lembaga kebenaran ini tidak dapat membunuh atau menghilangkan potensi itu, namun hanya sekedar mengendalikannya untuk diarahkan ke hal-hal yang positif.

Namun kurang optimalnya daya akal yang dimiliki manusia serta masih adanya potensi dan sifat-sifat bawaan manusia justru telah melahirkan konflik lembaga kebenarannya itu dengan lembaga kebenaran yang dimiliki orang lain. Ironis memang, lembaga kebanaran yang memberikan aturan-aturan dan memuat nilai-nilai luhur ternyata menjadi obyek perpecahan dengan simbol-simbol yang (nampak) berbeda. Manusia (dengan potensi-potensinya itu) ternyata lebih tertarik dengan simbol-simbol keagamaan yang sepele daripada intisari yang sebenarnya jauh lebih penting.

Memang bahwa konflik itu tidak mutlak ditimbukan oleh potensi alamiah manusia, namun apa salahnya jika kita menyalahkan diri sendiri untuk kemudian mengoreksi dasar dari semua itu bahwa kita memang belum ‘menjadi manusia’, karena kita belum mengoptimalkan potensi-potensi positif, seperti halnya akal. Dan kita pun tidak pernah sadar bahwa kita masih ditindas.

Penutup

Demikian makalah ini kami susun, tentunya banyak sekali kekurangan dan kesalahan atas kurangnya pengetahuan penulis, karena itu saran, kritik serta bimbingan kami harapkan selalu dan semoga apa yang kita lakukan ini akan dapat bermanfaat bagi kita semua, amin.

+++ m.a.j.u +++

Daftar Referensi

Ahyadi, Abdul Aziz, Drs. H. Psikologi Agama Kepribadian Muslim Pancasila. Bandung: Sinar Baru, 1991.

Arkoun, Mohammed. Islam Kontemporer Menuju Dialog Antar Agama. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001.

Daradjat, Zakiah, Prof. Dr. Ilmu Jiwa Agama. Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1991.

Fukuyama, Francis. Kemenangan Kapitalisme dan Demokrasi Liberal. Yogyakarta: Qalam, 2001.

Hanafi, Hasan. Agama, Kekerasan dan Islam Kontemporer. Yogyakarta: Jendela, 2001.

Jalaludin, Dr. Psikologi Agama. cet II. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2000.

Nasution, Harun. Akal Dan Wahyu Dalam Islam. Jakarta: UI-Press, 1986.

Pals, Daniel L. Seven Theoris of Religion. Yogyakarta: Kanisius, 2001

Sofyan, Muhammad. Agama dan Kekerasan dalam Bingkai Reformasi. Yogyakarta: Media Presindo, 1999.

Sumardjo, Jakob. Menjadi Manusia, Mencari Esensi Kemanusiaan Perspektif Budayawan. Bandung: Rosdakarya, 2001.


[1] Seperti terjadinya imperialisme kerajaan Islam sampai pada perang Salib,  sejarah masuknya agama kristen yang dibawa seiring kolonialisme barat, dan lain-lain.

[2] Persoalan yang terjadi di dalam tubuh agama itu sendiri, baik mengenai hukum atau yang lain. Contohnya, adanya aliran-aliran Syi’ah, Khawarij, Maturidi, Asy’ariyah dan sebagainya, kasus gereja (pembaptisan, penebusan dosa) di Eropa sehingga menimbulkan adanya 2 kelompok besar Kristen.

[3] Dr. Jalaludin, Psikologi Agama, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2000,cet II, hal. 1.

[4] Jakob Sumardjo, Menjadi Manusia, Mencari Esensi Kemanusiaan Perspektif Budayawan, Remaja, Rosdakarya, Bandung, 2001, hal.17.

[5] ibid, hal. 20.

[6] Harun Nasution, akal dan wahyu dalam islam, UI-Press, Jakarta, cet. II, 1986, hal. 9 – 10.

[7] Seperti halnya teori totem and taboo-nya Sigmund Freud. Teori ini menganggap bahwa agama diciptakan oleh manusia yang menyesal atas tindakannya membunuh ayahnya karena ia ingin mengawini ibunya (Oedipus). Penyesalan ini kemudian mendorongnya untuk menghadirkan sosok bapak ke dalam sosok Tuhan.

[8] Op.cit, Menjadi Manusia…, hal. 176.

[9] Ibid, hal. 177

[10] Ibid, hal. 26

[11] Ibid, hal. 31

[12] Francis Fukuyama, Kemenangan Kapitalisme dan Demokrasi Liberal,Qalam, Yogyakarta, 2001, hal 10.

[13] Drs. H. Abdul Aziz Ahyadi, Psikologi Agama Kepribadian Muslim Pancasila, Sinar Baru, Bandung, 1991, hal. 29.

[14] Op.cit, Menjadi Manusia,hal. 299.

[15] Op.cit., psikologi agama, hal. 213

[16] Dr. Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, Bulan Bintang, Jakarta, 1970, hal 137.

[17] Ibid, hal. 139

[18] Hasan Hanafi, Agama, Kekerasan dan Islam Kontemporer, Jendela, Yogyakarta, 2001, hal. 142.

[19] Mohammed Arkoun, Islam Kontemporer Menuju Dialog Antar Agama, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2001.


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 718 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: